Manusia Berstandar


Sore ini saya teringat wejangan dosen di kampus, kurang lebih seperti ini, "semakin tinggi level seseorang, dia punya standar". Waktu itu setidaknya lima detik saya meresapi dan rasanya otak ini menerima wejangan itu. Seseorang jika punya kualitas pasti dalam otaknya terukur sejauh mana sesuatu yang didapat dan dilakukan itu pada posisi buruk, sedang, ataupun baik. Tentu saja jika dia mampu berpikir maka akan memilih hal yang baik dengan cara-cara yang terstruktur.

Coba lihat orang di sekitar kita, mereka pasti punya levelnya masing-masing, punya target masing-masing. Dengan ketidakpastian capaian sebagian dari mereka terus berdoa dengan keyakinannya berharap langkahnya berkah. Benar, mereka adalah orang berlevel, kita tidak pernah akan tahu pasti bagaimana cara mereka berpikir, kadang kita hanya mengira-ngira.

Selain itu, struktur tahapan yang mereka lakukan juga berbeda. Berdasar pada pilihan "ya" dan "tidak" saja opsi yang mereka ambil bercabang berbeda. Ada yang dilalui dengan sederhana dan ada pula dilalui dengan segala kerumitan keputusan.

Idealisme terkadang menghiasi semangat juang mempertahankan sebuah kualitas. Tidak jarang kita menemukan aktivis yang memegang teguh atas perbaikan yang mereka tawarkan dengan kelihaian berpolitik. Keteguhan membawa mereka selalu bertekad memperjuangkan misi sehingga selalu ada saja langkah yang ditemui.

Dilema Sekolah

Kurikulum dan segenap aturan di sekolah adalah standar pelaksanaan pendidikan. Namun, apakah itu menjadi penentu siswa/siswi menjadi terdidik? Trust me! It's not the one and only. Materi di sekolah akan sangat bermanfaat jika mampu diresapi oleh peserta didik dengan baik untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Daya serap setiap orang terhadap suatu pengetahuan yang baru berbeda. Kelihaian elemen pendukung pendidikan mulai dari keluarga, guru, ataupun semua orang di sekitar kita adalah kunci awalnya. Selanjutnya adalah kemampuan dan kemauan daya serap dari kita sendiri. Kalau kita ditegur dengan hukuman mungkin karena kita tidak mau dididik, bukan karena kemampuan kita yang kurang.

Akhir-akhir ini terlalu banyak kasus yang bisa saya sebut "penghilangan kewibawaan pendidik". Anak melaporkan bapak ibu di rumah ke penegak hukum sampai murid melaporkan guru ke penegak hukum, jika ini hanya keinginan pribadi artinya kebacut!. Berbeda jika memang kondisinya menggerakkan orang banyak untuk melaporkan karena pendidiknya yang memang khilaf. Atau jika memang pendidiknya tidak baik, lalu kondisi itu dibiarkan oleh sekitarnya, berarti tetangga kita kebacut!. Sikap wibawa orang diatas kita harus dijaga bersama agar petuahnya berharga.

Kunci adalah pembuka bagi pintu yang sesuai. Baiknya kita buka pintu level tertinggi dengan mencari pemahaman tertinggi tentang ilmu. Diawali dengan memuliakan "keluarga ilmu" seperti diantaranya guru dan orang tua. Semoga capaian kita selalu mendapat keberkahan yang tinggi di level tertinggi.

Comments

Popular posts from this blog

Menikmati Perjalanan

Terjebak Isu Internasional

Dilema Kapal Selam Nasional