Atasan dan Bawahan Harus "Match"


Memang bahasan kali ini akan menjorok pada sebuah hierarki pekerjaan, namun sebaiknya saya bandingkan sebentar dengan fashion.

Di kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan pakaian dengan model yang berbeda. Tergantung dengan waktu, tempat, dan kondisi tentunya, dimana kita harus memilih pakaian formal atau casual. Dua kondisi itu pun punya spesifikasi yang berbeda. Penampilan formal biasanya berbau warna hitam, abu-abu, putih, dan coklat. Berbeda dengan gaya casual, racikannya lebih santai, warna-warni yang lebih tereksplorasi dengan berbagai aksesorisnya.

Namun, di balik itu semua masih banyak yang bisa dieksplor untuk mendapatkan taste maksimal. Mix and match, semakin banyak referensi maka semakin banyak pula yang bisa kita padukan.

Hitam dan coklat, setidaknya itulah warna penyeimbang segala warna pakaian formal, lebih sering kita gunakan dari daerah perut hingga ujung kaki. Pilihan celana hitam dan coklat lebih sering kita temui, tidak jarang juga sepatu hitam dan coklat bisa juga menjadi menu wajib fashion formal. Memang, suasana formal pilihannya lebih terbatas. Untuk suasana casual kita hanya perlu trik memadukan warna, motif, fungsi, dan jenis bahan saja, kurang lebih seperti itu. Mereka yang gemuk bisa memilih motif kecil dan kegelap-gelapan, begitu juga sebaliknya.

Sebagai contoh untuk penampilan casual wanita di dunia internasional, mereka yang menggunakan celana pendek harusnya bagian atas perut harus tertutup. Sebaliknya, jika menggunakan celana panjang, atasan boleh terbuka di bagian tertentu atau tidak terbuka sama sekali. Jika tidak demikian, mereka dianggap tidak tau aturan berpakaian. (No offense untuk yang muslim, ini sekedar contoh, untuk pengetahuan saja hehe)

Itu semua bertujuan selain menambah kepercayaan diri juga memberikan rasa nyaman kepada orang sekitarnya. Soal harga? Hmm, style itu relatif, kadang kita harus merogoh kocek lebih banyak untuk menghargai kreatifitas.

Kasus dalam pekerjaan

Atasan dan bawahan memang selalu menjadi bahasan sensitif dalam organisasi profit ataupun non-profit. Seyogyanya harus disadari bahwa jika kita masuk di dalamnya maka kita telah masuk dalam satu kolaborasi, dimana ada visi besar yang harus dicapai dengan misi yang telah dirancang.

Sering kita lupa hal tersebut ketika sudah dihadapkan dengan angka taruhan hasil kerja kita, gaji. Kita menempatkan gaji sebagai referensi utama untuk bekerja, kita menempatkan gaji sebagai tujuan akhir, dan kita menempatkan gaji sebagai nilai loyalitas dan totalitas, atau menempatkan perusahaan sebagai tujuan kita. Jika demikian, betapa terbatas sekali kebahagiaan kita, padahal disetiap aktivitas kita bertemu dengan orang baru, masalah baru, dan tantangan baru. Sehingga kita bertemu dengan kawan baru, pengetahuan baru, dan kemampuan baru.

Hendaknya kita harus saling memahami, bukan hanya untuk kalian yang masih level karyawan biasa ataupun untuk bos-bos yang punya kuasa, untuk kita semua yang masih sadar akan hal ini. Setidaknya inilah dasar yang harus dipupuk terlebih dahulu sebelum target kapital dibaliknya.

Memang, tidak jarang selalu saja saya mendapat curhatan banyak atasan yang terlalu memeras tenaga karyawannya (biasanya perusahaan swasta), tidak jarang pula saya mendapati kasus curhatan ternyata merekanya yang kurang maksimal (swasta ataupun non-swasta). Namun, idealnya atasan dan bawahan harus selalu match agar berjalan dengan baik menuju tujuan yang sama.

Kendalanya, kadang kita kurang mengetahui titik performansi kita. Ini akan semakin bagus jika kita mengetahui nilai performansi secara gamblang diberikan perusahaan atau bisa kita ukur sendiri. Umumnya yang dinilai adalah kinerja dalam tim, ketepatan waktu, sikap, dan kepemimpinan. Perusahaan besar setahu saya selalu konsen untuk hal ini.

Ada satu case, pada satu kesempatan saya berkesempatan untuk menyempatkan diri masuk dalam diskusi para manager muda dan manager senior salah satu perusahaan BUMN karena ada satu kerjaan yang harus diselesaikan. Saat itu kita membahas soal attitude karyawan masa kini. Mereka membahas atas perilaku yang tidak elok saat salah satu karyawan dimintai tolong untuk fotokopi berkas, dia malah tidak mau dengan alasan "saya disini datan
g untuk bekerja sebagai A pak, bukan untuk fotokopi". Entah ini cara dari atasannya yang salah atau memang karyawannya yang terlalu kolot. Diskusi saat itu memanas dengan tambahan uraian pengalaman masing-masing.

Adanya diskusi tersebut saya akhirnya memahami curhatan kawan-kawan saya tentan pekerjaannya di kantor dan mengapa mereka keluar masuk dengan mudah. Ada yang salah dengan atasannya, dan ada yang salah juga dengan mereka.

Semoga ini bisa memberi sedikit gambaran dan wawasan untuk saling menyadari apa hakikatnya kita bekerja. Setidaknya kita bisa terbuka untuk terus berkembang, janganlah berhenti dalam batasan yang kita buat-buat. Soal gaji? Hmm, memang kita harus deal di awal, namun jika kualitas kinerja kita bagus, di kemudian hari patut dihargai dengan daya tawar yang setimpal. Sing sabar hehe.

Comments

Popular posts from this blog

Menikmati Perjalanan

Terjebak Isu Internasional

Dilema Kapal Selam Nasional