Mengelola Arus Informasi (Media)

Informasi dimana saja ada, apalagi di perangkat digital disertai aplikasi sosial. Seolah bagai partikel gas bertekanan tidak beraturan ke segala arah. Berbagai gas dalam satu ruang, ada yang bermanfaat dan merugikan. Karena dalam setiap partikel memiliki energi, tidak mungkin kita musnahkan, namun dikelola.

Ibarat sistem pernapasan kita, segala gas masuk ke dalam tubuh. Awalnya masuk melalui hidung, dilaluilah proses perpindahan panas, temperatur gas diatur melalui lintasan berliku layaknya "heat exchanger". Setelah itu, melewati katup epiglotis sehingga kita dapat mengatur kapan waktu yang tepat memasukkannya ke dalam paru-paru (pulmo).

Masih ada proses selanjutnya, yaitu pemilihan gas. Oksigen (O2) adalah yang paling utama diperlukan, sehingga gas tersebut secara difusi masuk ke pembuluh darah kapiler di selaput gelembung alveolus. Kemudian digunakan oleh tubuh untuk melalukan proses pembakaran. Semua gas yang tidak diperlukan bersama karbon dioksida (CO2) dan uap air dikeluarkan, begitu seterusnya.

Proses ini memiliki korelasi penting untuk mengelola arus informasi di segala media kita baik secara sadar dan tidak sadar, tidak mudah. Bila sadar harusnya informasi diproses dengan sadar pula melaui tahap pemisahan jenis, preferensi, dan kualitas, sehingga berujung pada penilaian (appraisal) yang membantu kita memilah sejauh mana informasi itu penting untuk diserap. Lain ketika kita tidak sadar, umumnya ketika informasi bertubi-tubi masuk meskipun tidak sadar otak kita akan mengelolanya berdasarkan pengetahuan yang sudah terserap (automatic selection).

Artinya, informasi saja tidak cukup, perlu kelihaian mengaturnya. Media sosial hanya terbatas membentuk manusia yang "well informed" jauh dari "well educated". Seorang desainer saja bisa mendapat referensi banyak desain melalui media, namun tidak begitu lihai meniru tanpa praktek, bahkan untuk mengembangkannya akan sulit jika tidak memiliki ilmu dasarnya, bahkan lebih buruk lagi jika tidak bisa menilai referensinya. Lalu bagaimana bisa teredukasi dengan hanya membaca informasi di media sosial? Mustahil.

Sekali lagi, informasi saja tidak cukup. Perlu melalui banyak tahap dan pengalaman (valuable experience). Seperti yang diungkapkan De Bono, "The notion that information is enough, that more and more information is enough, that you don't have to think, you just have to get more information - gets very dangerous".

Akhirnya, kita perlu memperkaya diri dengan ilmu, meskipun tanpa mengenyampingkan informasi. Dengan begitu kita akan cerdas mengelola segala input dan menghasilkan output yang bermanfaat. Bukankah kerajaan besar selalu bertahan dengan memiliki ilmu pertahanan? dan Bukankah kerajaan besar selalu menyerap informasi perang dengan sangat bijak?. Begitu pula dengan kerajaan berpikir kita, bentengi otak dengan ilmu.

Semoga ini termasuk dalam golongan informasi yang penting. Hehe.

Comments

Popular posts from this blog

Terjebak Isu Internasional

Menikmati Perjalanan

Tips Bijak Menanggapi Isu Nasional Kaum Milenial