Rekayasa Ragam

Berbagai hal yang berbeda jika direkayasa dengan benar maka akan menjadi sesuatu yang unik, baru, kuat, dan maju. Misalnya tembaga dan plastik, hasil rekayasa kedua bahan ini bisa sangat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk kabel. Sama halnya dengan mobil, kapal, pesawat, itu semua hasil rekayasa para engineer. 

Keberagaman bahan baku juga menjadi referensi penting untuk kepentingan rekayasa. Sebagai contoh saya yang bekerja sebagai marine engineer, memilih tipe mesin, karakter, power, bahkan merk saja butuh referensi. Seorang desainer saja tidak bisa berkembang tanpa adanya referensi yang tangguh, entah dari orang lain ataupun dari berbagai segi kehidupan.



Sederhananya, dapat dipahami dari cara kita berpenampilan. Ada saatnya kita memakai peci, saatnya bergaya kasual, dan saatnya ber-jas formal. Darimana kita tahu apa itu kasual, peci, jas, tanpa adanya referensi? Coba saja googling, cari gaya macam apa itu dan biasanya seperti apa, itu sudah termasuk mencari referensi.

Wanita dan pria juga sering mencari referensi di umur 20an seperti saya. Mencoba mencocokkan berbagai tipe pasangan yang fit untuk kehidupan mendatang. Awalnya berefleksi, pada akhirnya mau yang ini itu untuk dijadikan pasangan. Itu pun butuh referensi, cari info sana sini, tanya itu tanya ini, iya kan? (Skip).

Menilik lebih dekat keberagaman umat manusia, khususnya di negara kita yang sudah beragam, ternyata sudah lama direkayasa oleh orang-orang hebat, para pahlawan. Hadirnya dasar negara (pancasila), semboyan (bhineka tunggal ika), lambang (garuda), dan aturan dasar (UUD 1945) merupakan pemikiran yang tidak main-main untuk merekayasa berbagai suku, ras, dan agama hidup bersatu hingga saat ini. Selama itu pula mereka sudah dapat berkembang memperbaiki kondisi diri.

Merekayasa itu tidak mudah! Bahkan insinyur terhebat pun membiarkan toleransi sekian milimeter agar rotasi dua material yang saling berlawanan tidak bergesek parah hingga merusak diri mereka masing-masing dan tidak bisa bekerja.

Para amatir datang dan menghancurkan hasil rekayasa itu sudah biasa, yang tidak biasa itu jika para pakar dengan sengaja merusak dan memodifikasi untuk kepentingannya sendiri. Sebar isu ini itu, diulang-ulang, hingga semua orang terekayasan pola pikirnya. Lempar bola panas, hingga tak satu pun orang dapat memegangnya.

Mari saling menjaga norma yang ada di sekitar kita. Ajaklah seseorang ketika sanggup menerima.

Banyak teknologi handal namun sulit diterima dari segi harga dan banyak hal lainnya, begitu pula banyak kebenaran yang terhina hanya karena ketidaklihaian pembawa suara.

Lalu, bagaimana bisa kita lalai menjaga keberagaman yang sudah di-maintenance hingga saat ini? Apa sudah waktunya overhaul? Kalau memang iya, sudahi dulu gesekan-gesekan yang ada. Biarkan hasil mahakarya "Indonesia" ini ditangani oleh ahlinya. Di dunia ini kita harus memberikan kepercayaan baik pada diri sendiri ataupun kepada orang lain. Bahkan akhir dunia pun harus kita percayai, walaupun hanya akan kita jumpai hanya sekali.

Hidup memang penuh rekayasa, hidup memang hanya sebuah permainan, yang mau berusaha dan bersungguh-sungguh pasti berhasil, insyaallah.

Comments

Popular posts from this blog

Menikmati Perjalanan

Terjebak Isu Internasional

Dilema Kapal Selam Nasional