Mengawali Perkuliahan, Sebagai Mahasiswa PMDSU

Serangkaian seleksi penerimaan mahasiswa baru pascasarjana oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) telah usai. Dari Jakarta ke Surabaya, setiap bulan sudah berusaha untuk menyelesaikan itu semua sejak bulan Maret hingga Juli lalu. Kini telah resmi menjadi mahasiswa jurusan Teknik Sistem dan Pengendalian Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan, tentunya dilengkapi dengan resminya sebagai mahasiswa dalam program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) batch 3.

Sekilas Tentang PMDSU

PMDSU merupakan beasiswa yang dikeluarkan oleh Kementerian Ristekdikti untuk sarjana dengan kriteria tertentu untuk menyelesaikan program magister dan doktor selama empat tahun di perguruan tinggi terpilih di Indonesia. Beasiswa ini telah dikeluarkan sebanyak tiga kali setiap dua tahun sekali mulai dari batch 1 hingga 3 sekarang. Selain mahasiswa para promotornya pun diseleksi sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Harapannya lulusan dari beasiswa ini bisa menjadi dosen yang berkualitas di perguruan tinggi.

Pada batch 3 kuota untuk beasiswa ini terbatas untuk 250 sarjana se Indonesia dengan jumlah promotor sekitar 180-an dosen terpilih. Terpaksa kuota untuk setiap promotor rata-rata hanya satu mahasiswa saja, sedangkan sisanya untuk promotor yang mana dalam bidangnya memiliki lulusan doktor yang kurang berdasarkan data dari kementerian. Setiap pasangan mahasiswa dan promotor dituntut untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas internasional dibuktikan dengan output jurnal yang bereputasi.

Rincian beasiswa yang diberikan cukup lengkap, mulai dari biaya hidup, buku, penelitian, hingga program sandwich. Namun, untuk beberapa biaya diberlakukan sistem seleksi untuk menjamin bahwa mahasiswa siap untuk melaksanakannya dan hasilnya bisa dipertanggungjawabkan seperti biaya penelitian per tahun dan sandwich. Dengan biaya tersebut mahasiswa dan promotor bisa memanfaatkannya untuk penelitian yang sebaik mungkin.

Tantangan Berat

Berhasil mendapatkan beasiswa ini bukan berarti semakin bisa bersantai ria. Di awal perkuliahan saja, belum masuk kuliah, mahasiswa dan promotor harus menyiapkan perencanaan dalam kurun waktu empat tahun. Semua hal harus dijabarkan dengan jelas dan rinci baik tentang perkuliahan ataupun penelitian yang akan dilakukan.

Di sisi lain, saya sendiri mempersiapkan proposal penelitian untuk empat tahun kedepan. Selain bentuk fisik yang harus selesai secepat mungkin, semua materi dan pemahaman harus segera saya kuasai. Hal tersebut tidak lain untuk diri saya sendiri agar ketika proposal sudah siap sisanya hanya aksi saja. Dosen pembimbing saya ketika masih sarjana pernah mengatakan bahwa proposal merupakan 80% dari penelitian, dan itulah yang saya sepakati dalam diri saya karena telah saya buktikan untuk beberapa penelitian.

Sejak awal profesor saya atau promotor saya juga mengarahkan untuk fokus untuk hasil jurnal penelitian dengan target yang kami sepakati bersama (di luar target PMDSU). Jika tidak direncanakan dengan matang sejak awal tentu di pertengahan atau di akhir sekalipun akan sangat menyulitkan diri sendiri. Pola pikir seorang peneliti yang runtut dan teliti harus terbangun lagi mulai dari sekarang.

Hampir dua tahun keluar dari kehidupan sarjana dan kurang dari satu tahun menjadi karyawan sebuah galangan kapal telah mengubah pola pikir saya, setidaknya pandangan akan dunia luar pasca kampus. Pemikiran praktis dan berhubungan langsung dengan masyarakat membuat saya lebih dewasa menghadapi berbagai persoalan yang tidak mudah diselesaikan. Di luar kampus segala kejadian tersusun lebih kompleks, termasuk problematika lengkap dengan cara menghadapinya.

Kali ini saya mulai kaget dengan gaya masyarakat kampus yang cukup khas ala civitas akademik. Hampir setiap hal dihadapi dengan gaya formal. Dosen yang saya hadapi ketika menjadi seorang profesional berbeda sikap ketika saya menjadi mahasiswa. Begitupun mahasiswanya, porsi bercandanya mulai terbatas, saya memaklumi hal tersebut karena secara tidak langsung tekanan akan tanggung jawab yang tinggi juga mengikuti kami.

Menjadi mahasiswa, lagi, membuat saya senang sekaligus was-was. Setidaknya saya mengerti tentang posisi saya saat ini adalah tugas besar untuk masa depan pendidikan Indonesia. Inilah jalan yang saya pilih sesuai dengan keinginan dan kemauan penuh dengan kesadaran diri. Semoga kedepan berjalan dengan lancar dan mendapatkan hasil yang maksimal.

Comments

Popular posts from this blog

Terjebak Isu Internasional

Menikmati Perjalanan

Tips Bijak Menanggapi Isu Nasional Kaum Milenial