Bersiap Sambut Kapal Berbahan Bakar LNG di Indonesia

Beberapa tahun terakhir isu bahasan tentang LNG menjadi hangat, apalagi tentang rencana impor. Penawaran harga murah dari luar negeri cukup menggiurkan, namun pemerintah memberikan batasan bahwa harga LNG harus kurang dari $7 per mmbtu. Di sisi lain, Indonesia pernah menjadi golongan pengekspor besar gas alam.

Rencana tersebut diikuti karena adanya perencanaan pembangunan pembangkit listrik bertenaga LNG di Indonesia timur. Upaya tersebut termasuk untuk elektrifikasi yang merata di seluruh wilayah Indonesia. Berbagai titik target pembangunan telah dibuat oleh PLN seperti di daerah Maluku dan Papua.

Ini merupakan demand baru yang membutuhkan LNG lebih banyak. Peningkatan ini memberikan ruang untuk membangun infrastruktur baru yang lebih banyak untuk penyediaan gas alam. Jika ingin dimaksimalkan, LNG dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk sektor selain kelistrikan.

Penggunaan LNG sebagai bahan bakar juga dapat diaplikasikan pada kapal, seperti kapal ferry dan kontainer. Kapal berbahan bakar LNG termasuk baru di Indonesia, begitu juga di berbagai negara dunia. Saat ini, mayoritas seluruh kapal yang ada menggunakan bahan bakar diesel. Beberapa tahun kedepan bahan bakar LNG akan sangat populer karena kelebihannya yang ramah lingkungan dan murah.

Pemerintah tengah serius untuk menggunakan LNG sebagai bahan bakar pembangkit listrik, utamanya untuk wilayah timur. Kajian tentang pendistribusian LNG hingga penyimpanannya tengah dilakukan oleh perguruan tinggi seperti ITS. Sektor pembangkit memiliki demand yang besar terhadap bahan bakar ini.

Bisnis gas memiliki nilai investasi yang sangat mahal. Faktor risiko menambah kebutuhan dasar seluruh aset yang perlu disediakan. Disamping itu, gas memiliki banyak manfaat untuk digunakan sehingga sepadan dengan nilai produksinya.

Poros bisnis industri gas dipegang oleh beberapa perusahaan negara ataupun swasta seperti PGN dan Pertamina. Adanya FSU (Floating Storage Unit) dan FSRU (Floating Storage Regasification Unit) yang sudah beroperasi merupakan investasi jangka panjang yang menunjukkan akan adanya peningkatan demand. Selain itu, ekspansi bisnis penggunaan LNG tentu akan terus ditingkatkan untuk mendapatkan keuntungan yang sepadan.

Kapal Bahan Bakar LNG

Teknologi kapal bahan bakar LNG merupakan teknologi yang cukup dikuasai oleh para insinyur perkapalan. Namun, di Indonesia sendiri permintaan akan kapal ini terhadap galangan nasional hampir tidak ada. Umumnya hanya untuk kapal pengangkut LNG itu sendiri dan memesan di luar negeri dengan berbagai pertimbangan.

Mesin kapal berbahan bakar gas dapat menggunakan mesin diesel dual-fuel. Mesin tersebut menghasilkan daya dan torsi yang menyerupai mesin diesel konvensional. LNG dapat digunakan sebagai bahan bakar utama dan masih menggunakan sedikit bahan bakar diesel untuk penyalaan.

Secara teknis kebutuhan utama kapal LNG hanya pada sistem bahan bakar saja. Sistem perpipaan dapat direkayasa sesuai dengan rekomendasi pembuat mesin dan persetujuan klasifikasi. Faktor keselamatan tetap harus prioritas utama agar kapal ini dapat dioperasikan dengan baik.

Kelebihan utama penggunaan bahan bakar ini disebutkan oleh guru besar T. Sistem Perkapalan ITS, Semin, dapat menghemat biaya operasional diatas 50%. Selain itu, emisi yang dihasilkan dapat berkurang cukup signifikan. Kapal merupakan penyumbang emisi terbesar kedua setelah seluruh transportasi darat.

Potensi permintaan LNG yang cukup besar untuk bahan bakar di masa mendatang didukung dengan berbagai ketatnya aturan dunia untuk mengurangi emisi gas buang kapal. IMO (International Maritime Organization) terus melakukan penekanan terhadap emisi gas buang kapal. Saat ini aturan tersebut hanya berlaku di beberapa wilayah saja.

Dukungan Berbagai Pihak

Pembangunan kapal berbahan bakar LNG sudah tahap siap untuk diaplikasikan. Jika akan mulai digunakan setidaknya pemerintah, perusahaan pelayaran, perusahaan galangan, perusahaan gas, klasifikasi, dan perguruan tinggi perlu duduk bersama. Bisnis ini dapat berjalan jika ada infrastruktur, demand, dan supply agar gas dapat terus tersedia.

Entah apakah pasokan LNG diperoleh dari produksi sendiri atau impor sumbernya harus jelas. Begitu juga kepastian infrastruktur dalam hal ini instalasi penyimpanan LNG di setiap pelabuhan bunkering serta sistem perpipaannya. Keduanya penting untuk memenuhi seluruh kebutuhan kapal.

Pengalaman untuk menyediakan pasokan LNG bukan lagi hal baru. Misalnya PGN sebagai perusahaan gas milik negara telah membuat mengoperasikan FSRU. Belum lagi, beberapa perusahaan swasta sudah menjadi pemain lama dalam bisnis ini.

Standarisasi harga LNG dalam negeri perlu ditetapkan sesuai dengan pasarnya. Pasalnya di Indonesia bagian barat pun yang sudah lama menggunakan LNG masih memiliki perbedaan standar harga. Apalagi jika nanti didistribusikan di Indonesia timur, adanya subsidi sementara menjadi salah satu opsi yang diajukan oleh Prof. Ketut Budha Artana saat seminar untuk pengembangan kapal pengangkut LNG beberapa hari yang lalu di ITS.

Di seminar tersebut juga disinggung tentang kapabilitas SDM untuk operasional kapal LNG. Oleh Bapak Fahmi dari klasifikasi LR disebutkan bahwa tanpa adanya SDM yang mumpuni akan sia-sia. Faktor utama dalam kapal ini yaitu keselamatan operasi.

Berbagai tantangan tersebut akan terus menjadi tantangan tanpa adanya kolaborasi antar stakeholders.Perencanaan harus tetap dieksekusi sehingga cita-cita pemerataan ekonomi dapat tercapai. Kebutuhan akan listrik memang penting, namun adanya kapal LNG dengan biaya operasional yang murah juga dapat mendukung kesejahteraan yang merata.

Comments

Popular posts from this blog

Menikmati Perjalanan

Terjebak Isu Internasional

Dilema Kapal Selam Nasional