Ibu Menteri Keuangan Membagikan Sebuah Video, Mengejutkan


Video ini menurut saya sangat menyinggung Zaadit saat menyampaikan pendapatnya beberapa waktu lalu. Sayangnya...

Di video ini opini mahasiswa dihadapkan kepada kesalahan berpikir dan menjadi sebuah boomerang. Saya tidak sepenuhnya membela Zaadit dan tidak sama sekali menghinanya. Jelas bahwa Zaadit menyinggung jalan tol di tanah luar Papua, bukan jalanan di Papua. Artinya, perbandingannya adalah ketimpangan kehidupan di Pulau A dan Pulau X, bukan hanya di Pulau A atau hanya di Pulau X. Dalam video seolah mahasiswa "kritis buatan" tersebut membandingkan dalam satu pulau saja.

Memang, pendapat Zaadit perlu direvisi, namun tidak sepenuhnya salah. Ketimpangan pembangunan jelas nyata di negara ini, meskipun saat sudah dalam tahap pemerataan. Sebenarnya bentuk kritik Zaadit sudah diupayakan pemerintah, namun ada benarnya juga karena pemerintah melakukan pembangunan serentak merata dan bukan pembangunan yang rata. Artinya, yang sudah pesat pembangunannya semakin pesat, yang ketinggalan baru saja dibangun. Dapat disimpulkan pembangunan tetap belum merata.

Jangankan dosen kelas ekonomi makro UI yang juga menteri seperi Ibu Sri Mulyani, menurut saya pun kita juga tau kalau jalan sebagai akses memperlancar distribusi. Tidak perlu dengan ada video ini. Beda ceritanya jika di Jawa kita sudah menikmati jalan tol namun di Papua masih jalan provinsi. Pembangunan yang merata jelas sudah berjalan lambat.

Ini PR kita bersama, dan pemerintah harus tetap membuka hati untuk bentuk kritik Zaadit, tidak perlu sampai seorang Ibu Sri Mulyani membagikan film pendek ini. Jelas ini mendiskreditkan peran mahasiswa dengan sangat halus.

Video ini diunggah di facebook milik Ibu Menteri Keuangan Sri Mulyani pada tanggal 21 Mei 2018 dengan detail caption berikut:

Sudah menonton film pendek yang berjudul Makro? Film ini adalah hasil kreativitas mandiri jajaran Kementerian Keuangan Republik Indonesia bersama mahasiswa di PKN STAN.

Saya bangga dan menghargai ide, kreativitas dan inovasi dari tim Kemenkeu yang diwujudkan dalam karya ini. Film yang dilakukan secara “in house” dan mandiri - juga menjadi contoh kreativitas dan inovasi dapat berjalan bersama dengan efisiensi dan tetap memberikan solusi.

Film ini menggambarkan bahwa dalam mengelola keuangan negara dan membuat kebijakan, kita selalu dihadapkan dalam pilihan-pilihan yang tidak selalu mudah -karena setiap negara selalu dihadapkan pada kendala sumber daya dan keuangan sedangkan berbagai persoalan pembangunan selalu mendesak untuk dipecahkan dan semunya penting dan prioritas.

Membangun infrastruktur bermanfaat bagi aksesibilitas, konektivitas dan produktivitas. Membangun sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan serta perbaikan gizi adalah investasi penting yang tidak boleh ditunda. Yang mana yang lebih penting dan yang harus didahulukan.

Saya berharap generasi muda dapat belajar bagaimana prioritas dan pilihan itu harus dilakukan- sehingga mampu menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin kedepan yang tidak hanya jago dalam teori, namun menguasai data dan informasi dan memiliki kepemimpinan yang cakap untuk dapat membuat pilihan kebijakan publik yang bermanfaat bagi mewujudkan masyarakat adil makmur dan dapat dipertanggung-jawabkan. 

Yuk nonton bersama film pendek tersebut!

Comments

Popular posts from this blog

Bersiap Sambut Kapal Berbahan Bakar LNG di Indonesia

Kuliah untuk Ijasah?

Sang Tokoh : Katanya Anak Teknik, Gitu Aja Nggak Bisa