Memposisikan Diri Di Tahun Politik

Bagi masyarakat biasa, tahun politik jadi waktu yang jenuh dengan ketidaknyamanan. Informasi media massa mulai mengerucut pada pola pemilihan umum, terlebih lagi media yang khusus membela salah satu kandidat. Dimana-mana yang terlihat hanya cekcok pendapat membenarkan pemikiran diri yang belum tentu relevan dengan data dan fakta.

Kondisi tersebut mendorong setiap individu untuk bergabung atau tidak sama sekali bersinggungan dengan segala hal berbau politik. Disamping dampaknya yang berkesinambungan, rupanya fenomena tersebut juga cukup menguras pikiran. Hampir setiap hari bisa jadi hanya memikirkan negara dan segala isinya.

Pastinya, hak sebagai pemilih perlu kita jaga arwahnya sebagai idependensi bersikap. Pengaruh dari luar bisa saja menggoyahkan dasar pikiran pemilih, namun jangan sampai itu terjadi. Bagaimanapun yang terpilih nanti akan menjadi orang yang perlu kita junjung, siapapun dia. Meski demikian jangan sampai buta juga, kalau memang perlu dikritik jangan sungkan-sungkan.

Perlu diniatkan dan diarahkan dari awal kriteria pemimpin apa yang cocok untuk saat ini. Sehingga saat datang kandidat dari golongan manapun sudah mampu kita klasterkan sesuai dengan analisa dan kebutuhan kita secara pribadi dan umum pada masyarakat tanpa ada intervensi dari pihak manapun. Dari sikap itu sangat sulit akan goyah dengan iming-iming apapun.

Jaman kini, jaman gagasan.

Lagi hits dan viral jika pemimpin mendorong gagasan dengan kekuatan anak muda. Sebabnya sederhana saja, karena mayoritas penikmat media saat ini adalah anak muda. Namun, jangan salah, pergeseran mulai terjadi saat ini, yang mana para orang tua telah beranjak pada seluruh medsos. Anak muda kembali pada plain media atau wadah yang sederhana.

Kejenuhan terjadi dengan berbagai pembaruan media sosial yang terlalu kompleks. Ini mengakibatkan ruang kreasi menjadi terbatas. Anak muda yang sebenarnya menggunakannya untuk mengekspresikan diri justru menjadi bosan dengan segala sesuatu yang ada, terlalu dimanjakan. Ruang maya menjadi semakin sempit sehingga cenderung mulai bergeser pada ruang yang tidak terlalu terjamah.

Sebut saja Facebook dan Instagram, dua platform ini akan kehilangan pengguna setianya jika konsistensinya terus kehilangan arah. Media tersebut telah bergeser dari plain media menjadi complex media. Segala hal ada disana, jenuh. Berbeda dengan twitter sebagai mini blog yang tetap konsisten berada pada koridornya yang mengedepankan tulisan terbatas minimalis. Sebagian besar pengguna medsos, kembali lagi ke twitter atau justru pensiun.

Artinya, massa anak muda telah bergeser ke ruang nyata. Suara-suara lantang melebur lagi dengan ruang keluh kesah masyarakat. Mereka dihadapkan dengan realita yang membutuhkan pertolongan, segera. Segala hoax dan penyelewengan pemikiran telah mereka lawan dengan keterbukaan wawasan, mereka telah beradaptasi.

Muda mudi saat ini, penulis dan kawan-kawan
Dengan demikian, gagasan menjadi terdepan untuk mencari perhatian mereka. Gagasan yang cukup realistis tanpa terlalu "memaksa" kembali lagi pada era digital. Ruang itu telah dikuasai "kaum tua" sehingga jangan heran kalau kekuatan orang tua ini mulai bangkit karena fanatisme terhadap satu paslon pemilu. Sehingga sangat tipis perbandingannya antara pendukung "pemain lama" dan pendukung "pembaharu". Namun, dengan gagasan yang disampaikan dengan tepat mampu membuka koridor baru dari kedua pihak untuk berpandangan luas.

Isu agama, ras, dan budaya akan selalu dominan. Meski demikian, itu bukanlah segalanya, bersatu tetap bersatu, jangan terlena. Massa yang besar dari faktor tersebut masih akan gugur dengan figur yang mampu mengedepankan solusi bersama. Masyarakat kita tidak lagi skeptis dalam memilih, apalagi dengan kemampuan mengenalnya mereka pada dunia digital.

Jadi, mari segala kemungkinan itu kita batasi dengan akal sehat yang lebih dulu menetapkan kriteria. Jangan sampai nuansa ricuh yang selalu terjadi di tahun politik masih saja membelokkan haluan kita pada pilihan yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Comments

Popular posts from this blog

Menikmati Perjalanan

Terjebak Isu Internasional

Dilema Kapal Selam Nasional