Autonomous Ship, Kapan Indonesia Menggunakan?

Hingga saat ini belum ada autonomous ship atau unmanned ship komersial yang berhasil dibuat di seluruh penjuru dunia. Beritanya tahun ini memang beberapa institusi dunia berlomba menjadi pembuat yang pertama, kalaupun ada itu pun masih perlu pendalaman lebih lanjut karena masih banyak celah riset yang diperlukan. Berbagai topik riset untuk seminar dan simposium dunia telah diberikan sesuai dengan kebutuhan, lebih banyak pada sistem otomasi pada kapal dan regulasi agar kapal jenis ini dapat berlayar dengan lancar untuk pertama kalinya. Sehingga, Indonesia tidak perlu khawatir karena ketinggalan atau apapun, kita juga sedang memposisikan diri.

Saat ini telah kita mulai dari hal yang paling kecil skala kampus seperti berkecimpung langsung dalam riset dan meningkatkan awareness pada mahasiswa dengan adanya lomba autonomous boat. Sebut saja kampus saya, ITS tahun lalu sudah dapat menjadi juara dunia untuk perlombaan skala kampus yang bergandengan dengan berbagai kampus bergengsi, alhamdulillah setelah lima tahun lalu saya dan kawan-kawan memulainya. Saya akui memang cukup sulit, sistem kontrol perlu dibuat sangat hati-hati dan advanced, butuh bertahun-tahun saat membuat hanya untuk kapal kecil. Di sisi lain, riset juga sudah berjalan di kalangan dosen untuk kapal militer. Kita tidak ketinggalan kok.

Namun, dikatakan sudah mendahului juga belum, ada banyak institusi swasta yang lebih percaya diri dengan tim pakem yang sudah terbentuk. Bahkan perusahaan skala Rolls-Royce berani bertaruh untuk teknologi ini, menarik bukan?. Sayangnya, untuk riset saja kita membutuhkan dana yang tidak sedikit, saya sempat ingin menawarkan proposal untuk disertasi namun ada berbagai hal yang menurut saya sangat menghambat studi saya jika proposal itu saya ajukan, saya akhirnya memulai dengan mengarah pada kapal ramah lingkungan terlebih dahulu. Ada keinginan saya melangkah pada autonomous boat, tetapi itu nanti saja, saya selesaikan studi saya dulu. Indonesia masih butuh banyak penyesuaian jika ingin melangkah, sekalipun pada tahap riset saja.

Revolusi industri 4.0 menurut saya merupakan langkah yang engage dengan isu kapal tak berawak ini. Gagasan internet of things nantinya akan merambah ke dunia perkapalan, bukan hanya pada sistem fabrikasi namun langsung pada sistem kapal. Teknologi yang akan berhadapan tidak akan sesederhana seperti saat ini, namun lebih kompleks dalam jangkauan dan kecepatan respon. Sistem internet balloon yang ditawarkan Google juga sangat menarik, bahkan dapat saya proyeksikan akan bersaing dengan sistem satelit, kita lihat saja siapa yang memberikan penawaran terbaik dari segi harga dan kelayakan layanan. Di sisi lain, kita perlu memahami bagaimana kapal tak berawak bekerja.

Kapal tak berawak bekerja seperti kapal pada umumnya, selama kapal dapat mengangkut barang dan aman selamat sampai tujuan, begitulah tujuan kapal dibuat dan sisanya hanya pendukung. Dan pada dasarnya, kapal itu hanya pendukung untuk bisnis para pedagang kelas atas, uang mereka jauh berkali-kali lipat daripada kapal yang mereka punya. Investasi yang mereka tawarkan harus memberi efisiensi keuntungan berkali-kali lipat daripada kapal konvensional. Artinya, keamanan investasi itu harus didukung dengan kepastian hukum dan kepastian teknologi. Oleh karena itu, berbagai riset saat ini lebih banyak fokus pada kesiapan sistem navigasi dan kesiapan regulasi yang mendukung.

Konteks kapal tak berawak (Gambar ini saya ambil dari hasil penelitian Rødseth dan Tjora, 2014)

Dukungan terhadap sistem navigasi dan sistem regulasi datang dari berbagai pihak, tentunya karena ini berpotensi membawa keuntungan yang lebih besar. Seluruh kalangan yang bersinggungan dengan kapal sudah menyadari kebutuhan ini di masa depan sehingga kemungkinan untuk diimplementasikan sangat besar. Sistem navigasi harus terkontrol secara otomatis, kemampuan mata telanjang akan sangat sedikit diperlukan, di sisi lain ini juga ancaman untuk para lulusan pelayaran karena area kerja mereka akan tereduksi. Sehingga, kurangnya jumlah manusia dalam kapal atau bahkan tidak ada sama sekali mendesak pihak regulator untuk memastikan jika kapal tersebut berlayar dalam kondisi layak. Memang, porsi human factor dikurangi sangat drastis untuk sistem kapal ini, selain itu faktor itulah yang lebih banyak menjadi kambing hitam selama ini.

Seluruh kebutuhan kontrol dari manusia akan bergeser dari marine based ke land based. Di setiap pelabuhan yang menjadi asal dan tujuan kapal akan terkoneksi dengan kapal dan antar pelabuhan, setidaknya seperti itu gagasan yang ditawarkan sejauh ini dari beberapa hasil riset yang sudah saya baca beberapa tahun lalu. Kebutuhan human resource akan banyak pada sektor ini, selain itu pada pihak galangan kapal juga akan meningkat pada bagian mekanik dan elektrik. Di sisi lain, akan ada banyak jenis pekerjaan yang dapat dibentuk untuk kepentingan managemen kapal jenis ini seperti (sebut saja) continuous monitoring staff. Artinya, selain kebutuhan untuk kapal itu sendiri, kebutuhan staff juga bergeser pada sektor keamanan laut. Potensi pembajakan kapal akan sangat besar saat kapal tidak berawak lagi, jalan panjang perlu ditempuh agar jenis kapal ini siap aplikasi.

Sebesar apa peluangnya?

Saat ini riset kapal tak berawak lebih mengarah pada jenis kapal kontainer yang lebih sederhana pada proses loading unloading kapal, namun beberapa tahun kedepan akan menyebar ke segala jenis kapal. Jika melihat trend yang pernah terjadi kemungkinan besar riset teknologi ini akan berekspansi pada small vessel dan high risk vessel. Kapal kecil seperti kapal nelayan dan kapal pariwisata kemungkinan besar akan menawarkan teknologi ini. Nelayan tidak lagi perlu langsung melaut dan para wisatawan secara nyaman berwisata laut tanpa kontrol kapalnya, tentu ini akan sangat mahal untuk saat ini dan "mengerikan". Saat ini saja kapal berawak pun menyebabkan banyak orang ketakutan karena banyaknya kecelakaan kapal, inilah tantangan yang perlu kita selesaikan. Begitu juga pada kapal yang berisiko tinggi seperti kapal tanker, hal mengerikan juga terlihat jelas dan karena itulah mengapa riset untuk bagian ini menarik. Di sisi lain, bidang militer juga akan semakin banyak, bagi saya lebih baik mengeluarkan kapal tanpa awak daripada banyak awak yang harus berperang di laut, selain juga untuk armada patroli rutin berkeliling berlayar.

Jadi, ini proyeksi besar yang dapat kita manfaatkan di Indonesia, segera ambil posisi dan ambil peran. Saya berharap berbagai feedback dengan berkomentar pada blog ini untuk kepentingan mendatang, hehe.

Comments

Popular posts from this blog

Bersiap Sambut Kapal Berbahan Bakar LNG di Indonesia

Kuliah untuk Ijasah?

Sang Tokoh : Katanya Anak Teknik, Gitu Aja Nggak Bisa