Dilema Kapal Selam Nasional



Hari ini saya menghadiri Sarahsehan HUT ke 59 Hiu Kencana di Armada Timur TNI AL, forum diisi dengan diskusi mengenai generasi baru kapal selam Indonesia. Menarik, hal ini berkaitan dengan kemampuan Indonesia untuk menjaga kedaulatan laut, kapal selam menjadi primadona karena hingga saat ini alat tersebut masih dianggap sebagai peralatan penunjang yang eksklusif. Kemampuannya yang mampu bersembunyi di dasar laut menyebabkan alat ini cukup strategis untuk terus digunakan, sayangnya jumlah kapal selam kita terbilang sedikit jika dibandingkan dengan milik negara tetangga. Dilemanya lagi, upaya untuk memperbanyak alat strategis ini tersendat oleh berbagai penghambat.

---

Tulisan ini saya buat untuk menunjukkan pada para pembaca bahwa kemampuan kapal selam Indonesia perlu untuk diupgrade, tugas kita sebagai warga negara adalah mendukung dan mendesak kebutuhan ini. Siang tadi ada bahasan bahwa persoalan kapal selam ini juga perlu diketahui khalayak ramai, masyarakat perlu tau bahwa kapal selam itu ada di Indonesia dan penting untuk menjaga keamanan laut. Dalam hal ini saya juga menyarankan dari tulisan ini jika perlu diadakan touring khusus oleh TNI AL untuk mengenalkan kapal selam di seluruh pelosok Indonesia. Jangankan mau mengadakan kapal selam baru, masyarakat kita saja tidak antusias untuk hal itu.


Antusiasme menurut saya sangat penting dimiliki oleh masyarakat kita karena jika isu antusiasme itu diangkat menjadi isu nasional maka para pengampu kebijakan tidak susah untuk menyetujui. Secara politik isu tersebut telah dipandang oleh banyak orang dan jika disetujui maka pengambil kebijakan akan terdukung oleh masyarakat. Jika tidak demikian maka para pengambil kebijakan akan melirik kebijakan lain yang lebih menarik perhatian karena akan menguntungkannya untuk menaikkan reputasinya. Kita tidak perlu sinis dengan itu, sudah lumrah bahwa semua orang dalam posisi apapun membutuhkan itu untuk kelancaran kepentingannya, dalam hal ini kepentingan pengambil kebijakan adalah terus mengambil keputusan yang tepat guna.

Namun, masalah politik seperti itu juga menjadi penghambat, prosesnya terlalu lama dan membutuhkan usaha yang masif. Jika desakan dari internal pengguna kapal selam ini dapat langsung teratasi, menurut saya bisa saja langsung dieksekusi. Jika masalahnya adalah alokasi anggaran maka perlu dikoordinasikan dengan benar dengan menaikkan skala urgensi pengadaan kapal selam tersebut. Menurut persepsi saya, mungkin selama ini kita belum khawatir dengan hal seperti ini. Membangun kapal selam itu membutuhkan waktu, sehingga jika tidak sekarang mau kapan lagi.

Selain itu, kapal selam yang baru dibeli sekalipun sudah ketinggalan teknologinya dengan negara tetangga. Artinya, kita sudah ketinggalan jauh dari segi kepemilikan kapal selam yang dapat bersaing dalam medan tempur. Bahkan, kita baru saja memulai membangun kapal selam kita sendiri, PAL telah melakukan alih teknologi dengan Korea Selatan yang bisa dikatakan sebagai pendatang baru, itu juga butuh waktu. Namun, usaha ini sudah dalam tahap yang baik karena kita telah sadar bahwa industri untuk kapal selam sangat kita butuhkan. Seandainya pembangunan kapal selam yang sedang dalam pengerjaan ini selesai maka ini adalah langkah yang besar.

Meskipun jika teknologinya belum layak perang, menurut saya ini akan menjadi sebuah keberhasilan yang luar biasa. Keluhan kita hanya soal teknologi penunjang seperti sistem propulsi dan teknologi elektronik untuk perang, itu hanya sebagian kecil masalah. Penting saat ini membuktikan bahwa kapal selam yang kita bangun mampu menyelam pada kedalaman yang strategis dan strukturnya memenuhi standar. Setelah itu kita melangkah pada sistem penunjangnya, kita bisa riset lebih semangat karena ada kepastian bahwa kapal selam yang kita bangun layak untuk diperjuangkan eksistensinya.

Dilema tersebut harus kita atasi bersama, jika perlu terus berinovasi dengan kemampuan penunjang lainnya karena bisa jadi beberapa tahun kemudian kapal selam yang seperti saat ini tidak menarik lagi. Semua yang pernah kita pikirkan harus kita realisasikan sesegera mungkin sebagai bentuk database kita. Kalaupun tidak memenuhi kebutuhan saat ini, kita sudah melangkah dan membuka ide baru yang akan datang dan disempurnakan di kemudian hari. Kita tidak perlu selamanya dilema, sekarang eranya solusi dan aksi, apa kontribusimu?

Comments

Popular posts from this blog

Bersiap Sambut Kapal Berbahan Bakar LNG di Indonesia

Kuliah untuk Ijasah?

Sang Tokoh : Katanya Anak Teknik, Gitu Aja Nggak Bisa