Terjebak Isu Internasional

Kita sudah terjebak, ketinggalan, jika kita bandingkan dengan dengan negara lain. Ini bukan sebuah kesalahan, ini lebih dekat dengan kebutuhan. Perlu disadari jika negara lain sudah berlaku peraturan A bukan berarti kita tidak bisa, tetapi kita belum membutuhkannya. Misalnya peraturan zero emission untuk kapal, sebagian besar negara maju sudah memberlakukannnya karena mereka pernah menghasilkan emisi yang sangat besar. Secara pengalaman mereka lebih dahulu sudah puas dengan emisi, kalau kita mungkin masih awam dan tidak peduli karena belum merasakan dampak langsung yang sangat signifikan. Akhirnya kita mengikuti mereka yang lebih dulu telah merasakannya, negara-negara yang maju terlebih dahulu.

Mereka mudah saja mengisukan hal itu menjadi isu internasional karena sebenarnya mereka yang membutuhkannya. Mereka sudah puas dengan apa yang telah mereka lakukan. Karena tidak ingin rugi maka mereka mengalihkan dari negaranya sendiri kepada negara yang belum puas dengan hal tersebut. Seperti mesin tua yang sengaja mereka sumbangkan kepada negara berkembang. Kita senang saja karena untuk membelinya saja kita belum mampu sebelumnya, karena memang belum butuh. Ketika mendapatkannya kita senang saja, kesalahannya yaitu kita menganggap itu adalah hal yang sangat baru.

Kapan kita mau menjadi pemimpin isu internasional? Menurut pengamatan saya akan sangat sulit kecuali dengan mengambil alih posisi strategis. Kebanyakan orang akan mengira dengan mengambil alih kepemimpinan akan mudah mengubah sistem, oh no bukan itu, namun posisi kita untuk memberi influence kepada khalayak ramai dengan pemikiran kita. Tidak ada masalah dengan sistem, justru sistem perlu mengikuti manusianya. Jika manusianya sudah sadar dan siap maka sistem apapun yang sesuai akan tereksekusi juga.

Di sisi lain, kita bisa juga mengambil satu keputusan untuk meloncat lebih depan dengan isu lebih baru, berhenti sejenak menjadi user dan menawarkan buah pemikiran baru. Namun, kekurangannya untuk tindakan ini yaitu eksekusinya yang sangat mahal karena kita akan mematikan rantai impor yang memungkinkan para pemain lama mengamuk, sehingga perlu kesiapan ekstra untuk mengantisipasi serangan tersebut. Segala infrastruktur harus siap (jika menggunakan pendekatan infrastruktur) dan seluruh SDM perlu mendukung dengan kapasitas ilmu yang siap (utamanya dari akademisi). Namun, ini sangat tidak mungkin dilakukan tanpa dukungan dari berbagai pihak, paling susah dari para pengusaha yang sudah menyiapkan lumbung-lumbungnya untuk dijual.

Prinsip mental para pedagang yaitu menjual apa saja, seperti Jordan Belfort yang hebat dalam kemampuan sales, yang penting untung. Mereka tidak peduli dengan isu-isu kecuali mempengaruhi jualannya, namanya juga manusia yang hasratnya selalu ingin dipuaskan, tidak akan ada selesainya. Artinya, kita perlu membuat lumbung baru bagi mereka jika ingin memuluskan kebijakan untuk move on one step ahead dari negara maju.

Skema ini jelas menunjukkan bahwa peran pemerintah, akademisi, dan pengusaha sangat besar. Selama ini kita sangat menyadari bahwa pengusaha adalah penegak pilar ekonomi nasional kita. Posisi itu menurut saya merupakan posisi yang ideal untuk membuat sebuah kebijakan, perspektif yang digunakan yaitu persepektif bisnis untung rugi. Oleh karena itu, jangan kaget kalau pada tataran posisi pemerintah dikejar-kejar oleh para pengusaha, posisi itu cukup strategis untuk menguntungkan mereka berkali-kali lipat. Entah apakah itu pengusaha kapitalis, nasionalis, atau apapun sama saja, mereka semua pengusaha yang mau untung. Namun, apakah untungnya untuk khalayak ramai atau diri sendiri itu terserah mereka.

Intinya jika kita berada pada posisi pemerintah dan ingin memuluskan isu baru untuk memimpin diri pada dunia harus berani. Tutup celah-celah yang akan memperkuat negara lain dan buka kesempatan peralihan untuk pemain lama. Setelah itu ajak mereka semua dengan melihat prospek kedepan jika negara ini mampu menjadi leader. Tentunya dengan dukungan para akademisi yang mampu melihat masa depan.

Comments

Popular posts from this blog

Bersiap Sambut Kapal Berbahan Bakar LNG di Indonesia

Kuliah untuk Ijasah?

Sang Tokoh : Katanya Anak Teknik, Gitu Aja Nggak Bisa