Menikah di Umur 25 Tahun, Menenangkan Sekaligus Menegangkan

Sebenarnya sudah satu tahun yang lalu saya menikah, oleh sebab itu saya baru bisa bercerita karena sudah satu tahun menikah. Di kota, umur 25 tahun dianggap masih anak baru gede untuk menikah, sedangkan di desa umur 25 tahun sudah terasa cukup tua. Buktinya, di kota sedikit sekali orang yang mau menikah di umur tersebut dan di desa terjadi sebaliknya. Penyebab utamanya yaitu terkait finansial yang belum memenuhi kehidupan sehari-hari. Menurut saya wajar, gaya hidup di kota sangat berbeda dengan di desa sehingga pertimbangan tersebut cukup rasional. Namun, ada beberapa pengalaman yang perlu saya bagi agar dapat mempertimbangkannya lagi.

Menyelesaikan urusan pribadi

Salah satu misi saya yaitu menikah secepatnya agar urusan tersebut segera selesai dan bisa melanjutkan hidup. Masa muda saya dikelilingi teman yang sibuk bergalau ria tentang seorang pasangan hidup, saya heran, mengapa tidak diselesaikan saja cepat-cepat. Sebagian teman hanya galau setiap hari bingung jodoh, sebagian lagi pacaran yang gitu-gitu aja. Yaa, termasuk saya yang sebenarnya masih di golongan mereka, maklum sedang di masa labil. Saya pikir memang menikah adalah solusinya yaitu mendapat pasangan dan meneruskan hidup. Menikah atau tidak, hidup harus terus berjalan bukan? Itulah penyebabnya saya tidak mau ambil pusing soal menikah, jika memang bertemu dengan wanita membuat saya tenang, saya menikah, itu keputusan saya saat itu, tidak muluk-muluk.

Artinya "membuat saya tenang" sebenarnya banyak juga jika dijabarkan. Sebelum saya berniat untuk menikah saya siapkan mental akan hal-hal yang akan terjadi setelah menikah. Selain itu, saya juga bertanya secara tidak langsung dan mendengarkan orang tua, calon menantu seperti apa yang mereka inginkan. Bagi saya kedua poin itu merupakan poin mendasar yang perlu saya persiapkan. Bagi saya kesiapan finansial akan ikut apa adanya dengan niat dan usaha, sekaligus cari istri yang mau mengerti filosofi tersebut. Ya memang, siapa yang mau hidup miskin, tidak ada kan. Namun, kondisi di masa depan siapa yang tau, mungkin saat ini kaya atau miskin, bisa jadi setahun kemudian terjadi sebaliknya. Mental dan pemahaman yang kuat tentang ini tidak mudah, harus dikomunikasikan dengan calon. Alhamdulillah istri saya mengerti saat itu.

Mental siap dengan segala kondisi merupakan mental yang terbentuk di dalam diri saya. Saya mengharapkan mental tersebut ada di keluarga saya setelah menikah, sehingga setidaknya saya mencari istri yang bermental seperti itu. Setelah saya berniat dalam kondisi yang tidak menentu alhamdulillah dilancarkan. Saat itu, sekitar tahun 2017 saya berniat tahun 2018 saya menikah. Saya benar-benar tidak tahu bagaimana teknis dan kesiapan saya, hanya niat saja. Saya hanya membayangkan, enak ya mungkin kalau tiap hari ada yang menemani, topik pembicaraan sudah tidak tentang galau-galau lagi, menyelesaikan urusan selangkah lebih maju, dan separuh urusan dunia selesai pula. Di samping itu memang terpikirkan, dari mana modal nikahnya, gmn kalau masih kurang, dapet istri darimana, hidup masih GGA WPP MGP (gini-gini aja, wajah pas-pasan, modal gak punya). Ya, tertawa saja saat itu, tetapi bayangan itu sudah jelas dalam benak saya sehingga mungkin hal itu juga yang membawa saya bertemu dengan banyak hal yang tidak terduga.

Saya saat itu yang berpenghasilan pas-pasan hidup di Jakarta sangat nekat jika langsung menikah. Alhamdulillah, saya mendapat beasiswa lanjut untuk kembali ke Surabaya. Saya sangat memimpikan kembali ke sekitar Jawa Timur agar bisa sering pulang ke rumah sekaligus hidup lebih murah tetapi berkualitas. Hidup di Jakarta sangat monoton, senin sampai jumat kerja, sisanya main ke mall, tempat makan, main ke tempat temen, ngumpul, gitu-gitu aja. Kalau di Surabaya, kemana-mana banyak tujuan, banyak wisata menarik pula, dekat rumah pula, target istri yang saya cari orang Jawa Timur-an pula. Selain mendapat beasiswa saya juga ikut beberapa project, alhamdulillah dapat tambahan.

Hanya beberapa bulan memulai kuliah, bertemulah dengan istri saya di pekerjaan yang sama waktu itu. Saya mencari perwakilan dari jurusan Arsitektur karena saya sedikit sekali kenalan di jurusan itu, akhirnya ada teman saya yang merekomendasikan salah satu orang. Mencari calon istri sudah tidak saya ambil pusing waktu itu. Sudah saya niatkan santai saja nanti ketemu juga. Kalau ada yang cocok ya diajak nikah saja lah, tidak sampai mencari-cari satu per satu. Saya benar-benar baru kenal waktu itu, meskipun satu kampus selama kuliah sarjana dan cuma beda satu tahun. Herannya, banyak orang yang mengenalinya. Saya benar-benar tidak tahu apa yang dibicarakan teman saya karena mereka seperti memperkenalkan lebih dalam. Ternyata dulunya dia mantan anak BEM yang juga aktif di jurusan dan banyak kegiatan. Untungnya, orang-orang di sekitar saya termasuk orang yang cukup hebat dalam organisasi, kepribadian, dan dalam banyak hal di dalam kampus. Akhirnya saya berpikir mungkin ini jalannya, seriuslah saya membidik. Saya penasaran dengan orang tersebut. Tidak lama, saya beranikan melamarnya.

Meluruskan tujuan hidup

Bagi saya tujuan hidup tidak lain untuk membawa bekal untuk kematian. Manusia umumnya memiliki siklus yang sama yaitu lahir, tumbuh, menikah, mempunyai anak, tua, dan mati. Sehingga, menikah menurut saya bagian dari hidup yang pasti akan saya jalani sehingga saya tidak ambil pusing dengan menikah. Lagipula, saya menemukan banyak keuntungan dengan menikah dan pundi-pundi bekal untuk kematian cukup banyak. Saat ini saya sudah memiliki seorang anak yang sangat lucu, lengkap sudah, jika saya dan istri mati nanti ada yang bisa diharapkan untuk mendoakan saya. Selain itu, selama saya hidup, banyak yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan amal kebaikan dengan keluarga saya. Semua terjadi seperti bayangan saya dua tahun yang lalu.

Saat ini tepat saya menikah, saya harus berterimakasih kepada orang tua saya yang telah mendoakan saya setiap saat sehingga saat ini saya sangat bahagia. Saya juga harus berterimakasih kepada istri saya karena telah sabar dan hidup bersama saya selama ini sangat menenangkan dalam segala situasi. Alhamdulillah.

Comments

Tulisan yang banyak dibaca

Pemilu Semakin Dekat, Perlu Banyak Diam

Tips Bijak Menanggapi Isu Nasional Kaum Milenial

Menikmati Perjalanan