Posts

Showing posts from 2020

Ingin Membuat Kapal Induk

Apakah negara ini membutuhkan kapal induk? Sepertinya tidak, dan maksud tulisan ini bukanlah ingin membuat kapal induk untuk negara. Kapal induk yang saya maksud adalah kapal untuk menunjang inovasi teknologi kelautan. Berbagai ide tentang dunia kelautan rasanya masih cukup populer hingga saat ini. Pada dasarnya, saya memantau trend ini dari lingkungan terdekat ataupun secara nasional dari sisi bangkitnya trend pembicaraan publik. Harus saya akui bahwa hal ini dimulai saat Presiden Jokowi menggaungkan konsep poros maritim. Ini berdampak cukup signifikan untuk bidang yang saya geluti yaitu dunia teknologi perkapalan dan kelautan.  Sejak konsep poros maritim dunia digaungkan, lingkungan saya langsung populer dan semangat merealisasikan berbagai teknologi kelautan. Semangat itu tumbuh dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, dosen, kolega, dan para alumni. Oleh sebab itu, wajar jika saya melihat bahwa hal ini memerlukan sebuah "kapal induk" khusus untuk memfasilitasi trend t

Kanada (Part 1) - Hampir Ketinggalan Pesawat

Image
Hari pertama di Kanada, salju turun untuk pertama kalinya. Kok pas sekali ya, saya heran, salju menyambut saya yang tidak pernah tau secara langsung rasanya turun salju. Saya kira hanya seperti bongkahan bunga es di kulkas, rasanya beda.  Merantau lebih jauh, pengalamannya lebih jauh juga Sudah hampir satu tahun setelah ke Kanada, saya belum pernah bercerita. Saat itu bulan November saya berangkat dari Jakarta. Tujuannya jelas yaitu untuk studi di University of Manitoba, sebuah kampus di provinsi Manitoba, di Winnipeg. Akhirnya, untuk pertama kalinya saya ke luar negeri. Ke luar kota sudah, ke luar provinsi sudah, ke luar pulau sudah, ini ke luar negeri pertama kali. Dari Terminal 3 bandara Soekarno Hatta saya diantar mas  yang sudah berpengalaman ke luar negeri.  Waktu itu dini hari, tujuan transit pertama saya ke Tokyo, Jepang. Jadi, bukan hanya Kanada, setidaknya saya pernah ke Jepang meskipun transit. Akhirnya, saya merasakan naik pesawat dengan kursi berjejer cukup banyak. Orang-o

Feasibility Study Kerjaan

Kalau dapat kerjaan, seketika memikirkan feasibility study .  Apa yang akan dikerjakan, bagaimana caranya, seberapa lama, jika diterima apa mungkin selesai, butuh apa saja agar selesai, di kategori menantang atau mudah, duitnya cukup?  Selalu saya sempatkan memikirkan bagaimana sebuah kerjaan dapat selesai atau bagaimana jika ditawarkan kerjaan dengan feasibility study sederhana tersebut. Prinsipnya, jangan asal ambil kerjaan, harus ada tawar-menawar dan deal di awal. Repot sekali jika sudah dikerjakan dan terasa berat di tengah jalan. Rasanya rugi berjamaah dengan kolega terkait.  Pemikiran tersebut tentu tidak datang dengan sendirinya. Butuh pengalaman dan berbagai referensi. Saya rasa setiap orang sudah pernah mengalaminya, namun mungkin tidak sadar bahwa proses itu seperti yang saya istilahkan sebagai " feasibility study kerjaan". Saya pernah menjadi orang yang " sing penting budal " atau yang penting berangkat dan jalani. Namun, standar perlu naik, " nek

Perjalanan Ketertarikan Membaca

Ada cerita panjang mengenai perjalanan ketertarikan saya untuk membaca. Saya mulai tertarik untuk membaca di bangku sekolah dasar hingga saat ini. Buku, berita, hingga jurnal, bagi saya banyak hal menarik yang bisa didapatkan dari membaca. Alam bawah sadar saya membawa saya untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kebutuhan. Salah satu contohnya adalah membaca. Bagi saya membaca adalah kebutuhan, selama saya tidak butuh membaca maka saya tidak membaca. Saat kecil dulu, siapa yang pernah berpikir sangat membutuhkan bahan bacaan. Saya rasa tidak satu pun dari kita membutuhkan membaca saat itu. Hanya saja, ada berbagai anjuran yang diterima, harus rajin membaca lah, membaca adalah jendela dunia lah, ada saja. Atau bahkan dorongan dari guru atau orang tua saja.  Saya saja tidak merasa butuh membaca saat itu, bisa membaca saja saya sudah puas. Itu mengapa saya sangat sulit saat itu membaca cepat. Apa gunanya? Tanya dalam diri saya saat itu yang berujung kesimpulan bahwa itu tidak penting. Hal

Seize The Moment!

Saat ini, saya masih dalam studi doktor di ITS, Surabaya. Saya mulai studi sarjana hingga doktor di kampus ini, di jurusan Teknik Sistem Perkapalan. Tahun depan adalah "gong" nya, semoga bisa lulus tepat waktu. Selama beberapa tahun terakhir ada banyak pengalaman berharga. Salah satunya yaitu pelajaran berharga untuk selalu bekerja maksimal. Bekerja sebaik mungkin saat ini juga, bukan nanti.  Saya terbiasa membuat rencana untuk setiap kegiatan sehingga selalu ada satu waktu hanya diam, merenung, berpikir apa yang akan saya lakukan nanti. Jika banyak, pasti saya catat di hape , buku, atau papan LCD. Sering, kalau tidak dicatat pasti lupa. Bagi saya kegiatan mencatat sangat baik untuk mengatur waktu dan target. Sayangnya, saat ada target berjenjang kadang usahanya dilakukan berjenjang. Apa itu buruk? Saya baru menyadari itu buruk.  Contoh satu kasus yang pernah saya alami yaitu saat membuat sebuah jurnal ilmiah. Ada banyak data saya miliki saat itu, sehingga sempat berpikir dap

Renungan Kasus Novel Baswedan

Anggap saja semua orang sudah tahu kasus Novel Baswedan, intinya ada kasus dari orang namanya Novel Baswedan yang termasuk orang penting di KPK dengan segala urusannya dengan tindak pidana korupsi. Tentunya orang kalau bekerja di KPK pasti berurusan dengan para koruptor. Musuhnya bisa banyak jika ketat memeriksa kasus korupsi, termasuk Novel Baswedan ini. Nah, Novel Baswedan ini ceritanya disiram air keras oleh oknum di wajahnya setelah sholat subuh. Akibatnya, salah satu matanya tidak berfungsi lagi hingga saat ini. Udah segitu aja reviewnya.  Baru-baru ini heboh bahwa pelakunya hanya dituntut satu tahun penjara oleh jaksa. Alasannya, pelaku tidak sengaja mengenai wajah korban saat menyiram air keras, padahal niat awalnya hanya menyiram tubuhnya, disamping pelaku sudah minta maaf kepada korban.  Komentar kita pasti umum, hampir semua orang bilang ini tidak adil dan tidak pantas, bahkan mencederai akal sehat. Katanya nggak mungkin tanpa niat jahat,  jangankan soal wajah yang terkena ai

Memimpin di Era Covid-19

Para pemimpin sekarang sedang susah, meskipun saya tidak tahu secara pasti. Saya mengambil kesimpulan bahwa para pemimpin sedang susah karena kondisi saat ini yang sangat sulit untuk diprediksi. Pandemi Covid-19 menekan semua jajaran pimpinan untuk menentukan keputusan yang sulit. Berbagai faktor perlu dipertimbangkan untuk terus hidup di tengah kesusahan. Kadang keputusannya memuaskan, kadang tidak, memang begitulah risiko menjadi seorang pemimpin. Sudah tiga bulan sejak saya pulang dari Kanada. Saat itu pandemi Covid-19 belum membuat negara ini panik. Waspada, lebih tepatnya. Di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta saat itu ada tim medis yang siap siaga menampung pasien yang sakit dengan APD lengkap. Begitu juga ada petugas khusus untuk mengecek suhu badan dari kamera termal dan termometer tembak. Tidak terlalu ketat seperti saat ini yang harus dilengkapi banyak prosedur.  Apakah kondisi saat itu terhitung "benar" keputusan yang diambil pemerintah? Tentu tidak ada yang bisa me

Kebangkitan Inovasi dan Teknologi di Tengah Pandemi Covid-19

Kasus virus Covid-19 memberi peluang akademisi untuk unjuk gigi. Eksistensi institusi akademik mencuat seketika. Berbagai inovasi dan teknologi telah diciptakan untuk menanggulangi kasus ini. Tentu ini kabar baik, kita perlu bertahan di tengah wabah. Dari berbagai kasus dan sejarah munculnya berbagai inovasi dan teknologi. Situasi "terpojok" mendorong para stakeholder mengarahkan akademisi membuat peralatan dan temuan baru untuk memperingan masalah. Seperti munculnya revolusi industri setelah perang dunia I yang menjadi momentum awal perkembangan teknologi. Pun, momentum pandemi virus Covid-19 global saat ini diharapkan mampu mendorong adanya inisiasi sistem inovasi dan teknologi Indonesia yang lebih baik. Inilah masa emas bagi institusi akademik menunjukkan kontribusinya. Harus diakui, tidak semua inovasi dan teknologi dari hasil penelitian mampu diterima oleh masyarakat. Pada kasus pandemi Covid-19 ini lengkap, isu sudah terbentuk, keinginan pemerintah ada, pengusaha re

Kemampuan yang perlu digunakan di kala ekonomi dunia kacau

Akhir-akhir ini bila kita cermati, dunia sangatlah kacau karena kondisi perekonomian. Namanya dunia, isinya dunia, tidak jauh dari materi. Namun, siapakah yang dirugikan dan siapa yang diuntungkan? Tidak ada. Keuntungan ataupun kerugian hanyalah sebab dan akibat. Fenomena ini merupakan sebuah proses dalam hidup. Tidak perlu diambil pusing, semua akan berakhir dengan sendirinya. Bahkan kondisi seperti ini akan terus terjadi pada waktunya. Artinya, kejadian seperti ini tidak bisa dihindari. Oleh sebab itu, kita perlu bersiap diri untuk bertahan dalam kondisi apapun. Dunia berjalan dinamis dan memang seperti itulah harusnya. Jika hanya berjalan statis maka tidak lebih dari kumpulan hewan. Manusia bisa berpikir, mungkin untuk saat ini. Pada saatnya nanti, manusia tidak lebih hanya seperti hewan yang tidak punya akal. Sepertinya, kondisi saat ini lebih mengarah kesana. Segala hal dikaitkan dengan ekonomi, hitung-hitungan. Ada virus corona, pertama kali yang dihitung adalah dampak ekonomi

Rumah tumbuh dan energi tumbuh

Image
Istri saya seorang arsitek, saya selalu mendapat ilmu arsitektur dari percakapan sehari-hari, salah satunya konsep rumah tumbuh. Konsep tersebut sangat cocok untuk kami pasangan baru menikah, yang mana dapat membangun rumah sedikit demi sedikit. Namun, tiba-tiba saya ingat bahwa saya ingin rumah dengan energi listrik yang mandiri. Sudah sejak lama saya mengidamkannya dan masih berkutat dalam hal teknis untuk hobi saja. Saat ini mungkin sudah waktunya, saya perlu memikirkan konsep energi tumbuh di rumah yaitu membangun energi listrik mandiri di rumah secara bertahap. Memang biaya listrik PLN cukup rasional, namun jika hobi disalurkan untuk hal yang bermanfaat mengapa tidak. Foto saya ambil di sekitar kos saat jalan ke kampus di Winnipeg, Kanada Konsep energi bertumbuh ini akan saya aplikasikan di rumah, tentunya dengan persetujuan dari istri. Saat ini saya punya beberapa aki motor yang tidak terpakai. Beberapa kali motor mogok dan tidak tahu asal usulnya dan menyalahkan aki, akhi

Apa yang paling penting dari akademisi?

Saya mendengarkan sedikit cuplikan kajian Gus Baha di youtube, bahwa yang paling penting itu pada hakikat. Beliau menjelaskan bahwa ada kyai di NU dan kyai NU. Sepemahaman saya dari video tersebut bahwa kyai yang di NU yaitu kyai yang berbasis NU, sedangkan kyai NU adalah kyai yang jadi kyai karena jabatan di NU. Saya berpikir, bagaimana dengan akademisi kampus dan fungsi jabatan akademik? Saya pikir ini relevan. Dari video tersebut menekankan bahwa yang lebih penting yaitu hakikat. Seperti wisuda, yang terpenting bukanlah wisudanya tetapi apakah dengan wisuda itu sebagai orang alim (berilmu) atau tidak. Beliau menjelaskan bahwa kegiatan ceremonial seperti wisuda tidak bisa mengganti hakikat. Memang benar, hakikatnya orang belajar haruslah berilmu.  Lalu bagaimana dengan jabatan fungsional akademisi? Saya harus merenungkan hal ini karena sangat mungkin saya akan mengalaminya. Selain itu, saya perlu memahamkan ini kepada istri saya yang berprofesi dosen. Menurut saya, jabatan fu

Menghadapi Krisis Kepribadian

Pohon tumbang pun masih bisa tumbuh, begitu juga dengan kepribadian. Seiring dengan kemajuan dunia maya, seolah manusia terlahir kembali sebagai manusia yang mengalami krisis akan kepribadian dengan kebutuhan utama yaitu isi perut. Saya sebut demikian karena kita sudah lupa untuk saling menghargai, lupa untuk saling menghormati, dan lupa untuk hidup tentram di masa hebatnya teknologi saat ini. Sehingga akal pikiran terlupakan seperti orang kelaparan yang hanya ingin makan. Kalau manusia sudah lapar, segala cara dilakukan untuk makan. Akal pikiran pun kadang terbengkalai. Krisis ini kadang juga saya alami, sehingga saya ingin berbagi hasil analisa saya. Berhenti belajar Di dunia maya masih ada saja yang terprovokasi, bertengkar, berkata kasar, seenaknya berbicara, dan berkomentar negatif. Saya pun pernah pada situasi itu. Kita lupa bahwa di dunia maya disaksikan oleh banyak orang. Sekali berbicara, itu seperti berpidato di tengah orang banyak. Kasus seperti ini merupakan kasus yang