Menghadapi Krisis Kepribadian

Pohon tumbang pun masih bisa tumbuh, begitu juga dengan kepribadian. Seiring dengan kemajuan dunia maya, seolah manusia terlahir kembali sebagai manusia yang mengalami krisis akan kepribadian dengan kebutuhan utama yaitu isi perut. Saya sebut demikian karena kita sudah lupa untuk saling menghargai, lupa untuk saling menghormati, dan lupa untuk hidup tentram di masa hebatnya teknologi saat ini. Sehingga akal pikiran terlupakan seperti orang kelaparan yang hanya ingin makan. Kalau manusia sudah lapar, segala cara dilakukan untuk makan. Akal pikiran pun kadang terbengkalai. Krisis ini kadang juga saya alami, sehingga saya ingin berbagi hasil analisa saya.

Berhenti belajar

Di dunia maya masih ada saja yang terprovokasi, bertengkar, berkata kasar, seenaknya berbicara, dan berkomentar negatif. Saya pun pernah pada situasi itu. Kita lupa bahwa di dunia maya disaksikan oleh banyak orang. Sekali berbicara, itu seperti berpidato di tengah orang banyak. Kasus seperti ini merupakan kasus yang membuktikan bahwa kita harus memposisikan dunia maya sebagai rumpun ilmu sosial yang baru. Karena sudah terbukti, dunia maya sangat berdampak terhadap kehidupan dunia nyata. Kita harus menyadarinya dan mempelajarinya untuk menghindari krisis menjadi pribadi yang baik. Oleh sebab itu, kita perlu untuk terus belajar.

Majunya teknologi memberikan semangat bagi sebagian orang untuk terus mengembangkannya, sebagian lainnya terlena. Hal ini wajar, namun perlu diwaspadai dan jangan terlena terlalu lama. Sebab jika terbawa arus teknologi maka kita menjadi manusia yang berhenti belajar. Akibatnya, kita hanya ingin tau hal yang baru untuk kepuasan sejenak, sementara kita tidak belajar. Jika ini terjadi, maka dampaknya akan sangat buruk. Mereka yang selalu belajar akan terus berkembang sedangkan para penikmat hasil belajar orang lain bisa terpuruk. Penikmat yang terpuruk itu seperti pecandu narkoba, jika tak sanggup lagi membeli narkoba maka akan sekarat. Sementara pembelajar yang memproduksi narkoba akan terus belajar membuat narkoba baru.

Bagi saya, belajar itu suatu kegiatan yang membawa pada suatu pemahaman sehingga setidaknya bermanfaat untuk diri sendiri ataupun orang lain. Sekolah hanyalah instrumen formal yang menuntun manusia untuk belajar satu persatu secara runtun dan teroganisir. Jadi, bukan berarti orang yang sekolah itu selalu belajar. Kadang juga ada orang yang sekolah tetapi tidak belajar yang akibatnya perilaku, sikap, dan tindakannya  tidak merepresentasikan sebagai manusia terpelajar.

Jadi, jangan bandingkan orang sukses yang berhenti sekolah dengan orang yang sekolah. Bandingkan orang sukses karena terus belajar dengan orang yang berhenti belajar. Saya heran, mengapa masih ada yang mengkaitkan sekolah dengan kesuksesan. Apa mungkin karena sekolah dianggap sebagai investasi dan sukses dianggap sebagai kondisi kaya raya? Entah, sukses pun bukan hanya soal uang (saya bahas ini di lain waktu). Menurut saya hal yang paling mendasar adalah belajar. Sehingga, belajar itu sangat penting, tidak perlu banyak, belajar semampunya, mungkin terlihat lambat namun setidaknya kita berkembang.

Jika terus belajar maka kita akan lebih bisa menguasai diri. Menurut pengamatan saya, orang Indonesia saat ini mulai belajar dalam konteks "menikmati perkembangan teknologi". Perkembangan teknologi yang pesat menyebabkan munculnya barang-barang baru yang diproduksi ataupun menggunakan teknologi canggih secara bertubi-tubi. Namun, di tengah pasar Indonesia yang diakui merupakan pasar yang menarik oleh dunia internasional, disebut-sebut di berbagai media massa bahwa daya beli orang Indonesia kini menurun.

Mereka memberi alasan bahwa saat ini ekspektasi orang Indonesia lebih tinggi karena gaya milenial, dan karena pendapatan mereka sedikit sehingga menunda pembelian untuk mendapatkan ekspektasinya. Menurut saya alasan itu sangat dangkal. Saya rasa, itu terjadi karena orang Indonesia mulai belajar dari banyaknya serbuan pasar dan merasa dipermainkan dengan mengeluarkan uang setiap saat untuk barang terbaru sehingga mereka lebih bijak sebelum membeli. Ini kemajuan yang sangat mengesankan, saya kagum, kita mulai menjadi pribadi yang maju.

Hanya saja, untuk konteks kepribadian di media sosial  masih kurang. Kadang kita ceplas ceplos berbicara seperti tidak dilihat orang lain. Padahal mungkin jika di dunia nyata konten kita bisa menyakiti perasaan orang lain dan kita tidak menginginkannya karena mungkin akan berdampak berkepanjangan.Menurut saya, kita masih dalam proses belajar. Kita masih butuh banyak belajar, jangan berhenti belajar.

Kaburnya visi

Krisis pribadi di era ini juga saya indikasikan dengan kaburnya visi seseorang. Bahkan bisa jadi seseorang tidak mempunyai visi sama sekali sehingga terjerumus untuk ikut-ikutan saja. Pribadinya menjadi tidak jelas dan bingung akan melakukan apa. Dampaknya melampiaskan diri untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Misalnya, seperti scrol media sosial setiap saat tanpa alasan, saya juga mengalaminya, itu sangat tidak bermanfaat. Kita hanya melampiaskan situasi yang bingung mau ngapain dan tidak jelas apa yang ingin dilakukan. Kadang itu sah-sah saja, kita butuh "waktu random" kita sendiri untuk sejenak menghilangkan penat. Namun, jika itu terus menerus terjadi dan lupa akan banyak hal, waspadalah.

Efek dari kaburnya visi seseorang menyebabkan kita mudah untuk digerakkan secara tidak sadar. Hal ini sangat buruk. Jika kita tidak punya visi pribadi sekalipun dan merasa sefrekuensi dengan visi orang lain setidaknya kita sempat berpikir. Dan jangan berharap bisa sempat berpikir jika kita tidak pernah melatihnya dengan belajar. Jika kita tetap seperti itu maka kita hanya sekedar ikut-ikutan. Masih bagus jika yang diikuti itu baik, bagaimana jika tidak?

Dampak yang nyata dari kaburnya visi pribadi yaitu masih ribut soal membela pemimpin. Tidak pernah selesai saya rasa orang membahas "Anies Ahok", "Bandung Jakarta", "Jakarta Surabaya", dan lain-lain. Apa yang mau kita cari sebenarnya? Visimu kemana? Masihkah ini tentang tujuan baik atau tentang figur belaka?

Setiap orang harus memiliki tujuan dalam hidupnya, jangan ikut-ikutan saja. Memang pada dasarnya manusia akan mengikuti visi. Tidak pernah orang secara sukarela mengikuti orang lain tanpa alasan. Secara gamblang, kita memang mengikuti orang tersebut. Namun, secara tidak sadar kita mengikuti visinya, bukan orangnya. Kita bisa membuat visi sendiri kan? Maka, kalaupun kita mengagumi seseorang, kagumilah manusia terbaik sehingga kita secara sadar ataupun tidak mengikutinya untuk menjadi orang yang baik. Jika merasa sudah mengagumi orang terbaik dan masih menjadi pribadi yang buruk, ketahuilah orang yang kita ikuti itu atau lingukungan kita masih membawa aura buruk dan kita masih perlu belajar. Siapa figur yang sempurna di dunia ini? Tentu kita memiliki preferensi masing-masing. Bagi saya pribadi figur yang paling sempurna yaitu Nabi Muhammad, tidak dapat diragukan, absolut.

Sehingga saya yakin jika saya mengagumi nabi dan tetap berbuat dan berkata buruk itu berarti ada yang salah dengan lingkungan sekitar saya. Lingkungan itu bisa jadi lingkungan keluarga, teman, kerabat, sosmed, dan lain-lain. Ingatlah bahwa kita merupakan mahluk yang bisa berpikir. Krisis kepribadian yang melanda saat ini, terutama di dunia maya, perlu diselesaikan segera. Sehingga kita bisa menjadi contoh setidaknya untuk anak keturunan kita sebagai contoh yang membawa kebaikan. Terus belajar, sadari visi kita, dan tetap hidup rukun dengan sesama di dunia nyata ataupun di dunia maya.

Comments

Tulisan yang banyak dibaca

Pemilu Semakin Dekat, Perlu Banyak Diam

Tips Bijak Menanggapi Isu Nasional Kaum Milenial

Menikah di Umur 25 Tahun, Menenangkan Sekaligus Menegangkan