Apa yang paling penting dari akademisi?

Saya mendengarkan sedikit cuplikan kajian Gus Baha di youtube, bahwa yang paling penting itu pada hakikat. Beliau menjelaskan bahwa ada kyai di NU dan kyai NU. Sepemahaman saya dari video tersebut bahwa kyai yang di NU yaitu kyai yang berbasis NU, sedangkan kyai NU adalah kyai yang jadi kyai karena jabatan di NU. Saya berpikir, bagaimana dengan akademisi kampus dan fungsi jabatan akademik? Saya pikir ini relevan.

Dari video tersebut menekankan bahwa yang lebih penting yaitu hakikat. Seperti wisuda, yang terpenting bukanlah wisudanya tetapi apakah dengan wisuda itu sebagai orang alim (berilmu) atau tidak. Beliau menjelaskan bahwa kegiatan ceremonial seperti wisuda tidak bisa mengganti hakikat. Memang benar, hakikatnya orang belajar haruslah berilmu. 

Lalu bagaimana dengan jabatan fungsional akademisi? Saya harus merenungkan hal ini karena sangat mungkin saya akan mengalaminya. Selain itu, saya perlu memahamkan ini kepada istri saya yang berprofesi dosen. Menurut saya, jabatan fungsional seperti asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan guru besar pada hakikatnya yaitu tingkatan kemampuan peneliti. 

Kalaupun gajinya ataupun tunjangannya semakin besar, itu hal yang biasa dan wajar. Semakin besar jabatannya maka tentu tanggung jawabnya lebih besar. Sehingga tunjangan yang didapatkan akan semakin besar karena usaha untuk menanggung beban tersebut juga besar. Oleh sebab itu, perlu dipahami bahwa kenaikan jabatan fungsional tersebut semata-mata karena orang tersebut memiliki kemampuan yang pantas untuk jabatan tersebut. 

Jadi, yang dikejar paling utama bukan syarat minimal untuk mendapatkan jabatan tersebut, namun bagaimana kapasitas diri sebagai dosen terus meningkat. Perkara ingin naik jabatan atau tidak tentu tidak bisa dihindari karena kenaikan jabatan tersebut mau tidak mau harus dilalui seorang dosen. Karena jika tidak, maka perlu dipertanyakan apa kontribusi dosen tersebut terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. 

Sehingga perlu diluruskan, harapannya jika suatu saat nanti di kampus menjabat sebagai profesor maka yang baik adalah menjadi profesor di suatu kampus, bukan profesor kampus. Yaitu menjadi seorang profesor meskipun tanpa jabatan profesor tetap kualitasnya profesor. 

Comments

Tulisan yang banyak dibaca

Pemilu Semakin Dekat, Perlu Banyak Diam

Tips Bijak Menanggapi Isu Nasional Kaum Milenial

Menikah di Umur 25 Tahun, Menenangkan Sekaligus Menegangkan