Kemampuan yang perlu digunakan di kala ekonomi dunia kacau

Akhir-akhir ini bila kita cermati, dunia sangatlah kacau karena kondisi perekonomian. Namanya dunia, isinya dunia, tidak jauh dari materi. Namun, siapakah yang dirugikan dan siapa yang diuntungkan? Tidak ada. Keuntungan ataupun kerugian hanyalah sebab dan akibat. Fenomena ini merupakan sebuah proses dalam hidup. Tidak perlu diambil pusing, semua akan berakhir dengan sendirinya. Bahkan kondisi seperti ini akan terus terjadi pada waktunya. Artinya, kejadian seperti ini tidak bisa dihindari. Oleh sebab itu, kita perlu bersiap diri untuk bertahan dalam kondisi apapun.

Dunia berjalan dinamis dan memang seperti itulah harusnya. Jika hanya berjalan statis maka tidak lebih dari kumpulan hewan. Manusia bisa berpikir, mungkin untuk saat ini. Pada saatnya nanti, manusia tidak lebih hanya seperti hewan yang tidak punya akal. Sepertinya, kondisi saat ini lebih mengarah kesana. Segala hal dikaitkan dengan ekonomi, hitung-hitungan. Ada virus corona, pertama kali yang dihitung adalah dampak ekonomi. Ada bencana alam, mungkin ekonomi masih nomor dua, yang dihitung pertama adalah jumlah korban. Ada pemilihan presiden, dampak yang selalu dilihat adalah ekonomi. Semua berkaitan dengan ekonomi. 

Persoalan ekonomi hanya berarti bagi mereka yang memiliki materi, bagi yang tidak memiliki materi tidak ada masalah. Setiap hari mereka kesulitan dalam hal ekonomi, sehingga fluktuasi ekonomi global bagaimanapun bentuknya, hidup mereka sendiri sudah fluktuatif. Sehingga, mari kita mensyukuri apa yang kita miliki. Bersyukur merupakan kemampuan dasar yang harus kita miliki di kala ekonomi dunia kacau. Namun, hidup perlu berlanjut dan bertahan bagi semua umat manunia.Artinya, dalam kondisi apapun kita harus berani berinvesatasi. Sayangnya, poin investasi yang saya maksud bukan tentang uang. Investasi ini untuk meningkatkan kapasitas diri.

Beberapa kapasitas diri yang akan terus digunakan sepanjang hidup yaitu kapasitas untuk berpikir, kapasitas untuk bertindak, dan kapasitas untuk memutuskan. Kapasitas kita untuk berpikir perlu sebuah investasi yang cukup mahal, yaitu waktu. Tidak ada materi yang bisa mengalahkan waktu, dan waktu untuk berpikir sangatlah berharga, sehingga perlu kita sediakan waktu untuk berpikir karena di saat kita berpikir kita sudah kaya sebelum mendapatkan materi. Ketika seseorang mampu berpikir banyak hal yang akan disadari. Misalnya, saat ada masalah dengan tetangga, orang yang tidak berpikir pasti masalahnya tidak akan selesai, setiap hari ribut. Coba kita pikir, ribut dengan tetangga bisa kita atasi dengan mudah dengan berbaik hati pada tetangga bagaimanapun respon mereka. Selesai. 

Selanjutnya yaitu kapasitas untuk bertindak. Kapasitas ini bagian tersulit setelah kapasitas berpikir. Kita perlu meluangkan waktu untuk berlatih dan membiasakan diri. Tidak semua orang memiliki kapasitas ini dengan cuma-cuma. Sebagian orang menyebut ini bibit dari kepemimpinan. Kondisi ekonomi dunia yang kacau membutuhkan solusi, setidaknya untuk kondisi ekonomi pribadi. Saat kita memiliki kapasitas untuk bertindak, kapasitas berpikir akan terlewati dengan sendirinya karena tidak ada bertidak tanpa berpikir. Bertidak tanpa berpikir hanyalah respon tidak terlatih. Contohnya, anjing mengejar seseorang tak dikenal mendekatinya, dia akan bertindak, setidaknya menggonggong. Namun, ketika anjing tersebut sudah terlatih, dia tidak serta merta bertindak. Dia akan menerima informasi terlebih dahulu dari tuannya dan dia berpikir bahwa saatnya bertindak. Begitu juga dengan kita, kapasitas bertindak dapat diperoleh dengan latihan. 

Pembeda kita dengan anjing adalah saat kita memutuskan. Kapasitas ini sangat sulit dikuasai tanpa ilmu. Perbedaan anjing dan manusia paling besar yaitu pada ilmu. Kita lebih pandai dalam membuat keputusan. Kita lebih mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, naluri kita sudah ada di tahap itu. Sayangnya, tidak semua orang menyadari kapasitas ini. Sekali lagi, kapasitas ini harus berangkat dari kapasitas berpikir dan kapasitas bertindak. Kapasitas memutuskan hanya bisa kita dapatkan dengan berilmu. Contoh ringan saja, saat kita memiliki masalah dan kita terpaksa untuk memutuskan, pasti kita bingung. Kita pasti berpikir tentang masalah tersebut dan mungkin sudah bertindak. Terkadang dengan bertindak pun masalah tidak selesai. Apa yang terjadi? Karena kita tidak punya kapasitas untuk memutuskan.

Dalam memutuskan sesuatu perlu adanya ilmu sehingga kita dapat menganalisa penyebab, solusi, dan dampaknya. Dengan seperti itu, kita akan lebih mudah menyelesaikan masalah. Kita akan dengan mudah mengambil keputusan karena mengerti akan risiko dari setiap keputusan kita dan bagaimana cara mengatasinya. Sekali lagi, kapasitas ini membutuhkan ilmu. Secara tidak sadar, beberapa orang terkadang bertanya kepada kerabat, atau bahasa gaulnya "curcol", meminta pendapat tentang masalah mereka. Sebenarnya, secara tidak sadar kita mencari ilmu untuk membuat sebuah keputusan.

Oke, ketiga investasi ini tidak soal uang, sangat sangat sangat murah jika kita lakukan. Jika kita mau investasi dengan ketiga jenis kapasitas ini, kita bisa bertahan dalam segala masalah. Saya yakin ilmu ini dibahas di semua agama. Mari jangan hanya memikirkan dunia, kita masih akan hidup setelah mati. 

Comments

Tulisan yang banyak dibaca

Pemilu Semakin Dekat, Perlu Banyak Diam

Tips Bijak Menanggapi Isu Nasional Kaum Milenial

Menikmati Perjalanan