Kebangkitan Inovasi dan Teknologi di Tengah Pandemi Covid-19 - Pengembangan

Kasus virus Covid-19 memberi peluang akademisi untuk unjuk gigi. Eksistensi institusi akademik mencuat seketika. Berbagai inovasi dan teknologi telah diciptakan untuk menanggulangi kasus ini. Tentu ini kabar baik, kita perlu bertahan di tengah wabah.

Dari berbagai kasus dan sejarah munculnya berbagai inovasi dan teknologi. Situasi "terpojok" mendorong para stakeholder mengarahkan akademisi membuat peralatan dan temuan baru untuk memperingan masalah. Seperti munculnya revolusi industri setelah perang dunia I yang menjadi momentum awal perkembangan teknologi. Pun, momentum pandemi virus Covid-19 global saat ini diharapkan mampu mendorong adanya inisiasi sistem inovasi dan teknologi Indonesia yang lebih baik.

Inilah masa emas bagi institusi akademik menunjukkan kontribusinya. Harus diakui, tidak semua inovasi dan teknologi dari hasil penelitian mampu diterima oleh masyarakat. Pada kasus pandemi Covid-19 ini lengkap, isu sudah terbentuk, keinginan pemerintah ada, pengusaha resah, dan masyarakat membutuhkan.

Sangat jarang dan sulit menemukan situasi seperti saat ini untuk para peneliti dan inovator. Mereka perlu kerja ekstra untuk meyakinkan berbagai pihak untuk menerima karyanya. Sudah mampu dalam hal teori dan praktikal, namun lemah dalam birokrasi dan promosi.

Setidaknya, ada beberapa inovasi dan teknologi yang telah diciptakan di Indonesia. Misalnya, inovasi perlengkapan APD (alat perlindungan diri) darurat, ventilator, dan alat penyemprot desinfektan. Tidak hanya institusi pendidikan, bahkan masyarakat umum turut aktif berkontribusi.

Namun, untuk peralatan yang memerlukan standar perlu diinisiasi oleh sebuah institusi, seperti ventilator. Peralatan bantu pernapasan tersebut harus memenuhi standar dengan pengawasan khusus. Alat tersebut digunakan untuk membantu pasien yang sulit bernapas.

Pengurusan standar tentu tidak mudah dan perlu koordinasi khusus. Di tengah wabah ini, pendampingan standar pembuatan ventilator oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) sangat bermanfaat. Produksi alat ini sangat mungkin dapat dilakukan dalam waktu singkat. Mengingat pasien penderita Covid-19 masih meningkat.

Wabah baru

Covid-19 mengukir sejarah baru. Jenis virus ini setidaknya telah membuat sibuk para peneliti di bidang kesehatan. Segala karakternya masih menunjukkan misteri dengan fatality rate yang terbilang tinggi. Pengaruhnya cukup signifikan, seperti kebijakan World Health Organization (WHO) mengenai penggunaan masker.

Awalnya, masker dianjurkan hanya untuk tenaga kesehatan dan orang yang sedang bergejala terpapar virus ganas tersebut. Berbagai pihak mengkampanyekan tidak perlu menggunakan masker jika tidak sakit. Bukan tanpa alasan, masker medis sangat sulit didapatkan, paling tidak untuk para tenaga medis.

Saat ini berbeda, virus Covid-19 diinformasikan WHO tidak hanya menular dengan tetesan (droplet). Namun, juga mampu bertahan di udara selama beberapa jam. Tentu fakta ini membuat masyarakat khawatir karena masker sangat langka di pasaran.

Menunggu penelitian apa lagi? Kita harus bersama menekan angka korban akibat virus ini. Hingga sekarang, trend jumlah korban dan pasien masih menunjukkan peningkatan. Setiap orang dapat berkontribusi dengan cara yang spesifik. Bahkan diam di rumah adalah solusi pasif yang sangat berpengaruh.

Selain diam di rumah sebagai upaya social distancing, ada beberapa cara yang dapat dilakukan masyarakat. Seperti rajin bersih diri dan memakai masker ketika keluar rumah. Bahkan dapat juga aktif mengingatkan kerabat terdekat, sederhana.

Namun, para ABG (Academic-Bussiness-Government) harus sibuk untuk menangani wabah ini secara masif. Para akademisi menangani dengan memulai penelitian dan menerapkan hasilnya. Para pengusaha perlu menemukan peluang bisnis baru yang dapat dikembangkan dalam waktu singkat untuk penanganan wabah. Di samping itu, pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan yang tepat sasaran.

Beberapa pejabat terpantau aktif mengkolaborasikan institusi akademik di daerah untuk menggenjot inovasi alat kesehatan baru untuk wabah ini. Misalnya di Surabaya, walikota Tri Rismaharini langsung aktif meminta IT Telkom Surabaya untuk membuat bilik sterilisasi setelah hebohnya wabah ini di Indonesia. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Vietnam.

Dampaknya, muncul banyak bilik sterilisasi diproduksi setelah itu, seperti untuk mobil yang masuk ke pemukiman padat penduduk. Seketika itu juga, berbagai institusi mendapat triger untuk turut berkontribusi membuat inovasi baru. Setelah itu, muncul drone untuk desinfektan, robot perawat, ventilator, alat pelindung wajah, dan lain sebagainya. Ini luar biasa, blessing in disguise.

Kebangkitan inovasi dan teknologi Indonesia?

Saya yakin saat ini adalah awal baru bagi kebangkitan inovasi dan teknologi di negara ini. Dalam beberapa tahun terakhir, para ABG jarang sekali terlihat sekompak ini berkontribusi. Kadang inovasi siap digunakan, kebijakan pusat menyulitkan implementasi, dan sebaliknya.

Disamping, pernah terlihat kekompakan itu. Seperti pembuatan si Gesits motor listrik made in Indonesia. Mengingat, sebelumnya cukup banyak tragedi pertumbuhan inovasi lokal menunjukkan tidak kompaknya para ABG. Muncul ke permukaan sih, namun hilang seketika itu.

Saya berharap untuk inovasi alat kesehatan saat ini dapat siap produksi seterusnya. Permintaan mungkin akan menurun setelah wabah selesai. Setidaknya, kita sudah menunjukkan kemampuan tersebut dan perlu dikembangkan untuk sektor lainnya. Namun, perlu dicatat dalam sejarah bahwa Indonesia pernah dalam waktu singkat dapat membuat peralatan kesehatan terstandar dengan birokrasi yang singkat dengan dukungan dari berbagai pihak.

Fenomena ini perlu dipelajari secara khusus setidaknya oleh tiga kementerian terkait. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat berperan aktif mengakomodasi dan mendorong hasil inovasi dan teknologi perguruan tinggi. Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional dapat aktif jemput bola seluruh inovasi yang ada. Selain itu, Kementerian BUMN perlu memastikan segala kebutuhan dasar tumbuhnya inovasi dapat terpenuhi secara mandiri.

Kesiapan lokal sangat krusial untuk menghadapi berbagai tantangan seperti saat ini. Penting untuk merealisasikan visi negara maju yang bukan sekedar “pengakuan” negara lain belaka. Sehingga, kedepan negara ini mampu berdikari dalam kondisi apapun. Semoga wabah ini dapat segera berakhir.

Comments

Tulisan yang banyak dibaca

Kembali Ke Kampus Perjuangan - Perjalanan

Pengalaman Mendapat Beasiswa PKPI/Sandwich-Like di Kanada - Riset

Hampir Ketinggalan Pesawat ke Kanada - Perjalanan