Memimpin di Era Covid-19

Para pemimpin sekarang sedang susah, meskipun saya tidak tahu secara pasti. Saya mengambil kesimpulan bahwa para pemimpin sedang susah karena kondisi saat ini yang sangat sulit untuk diprediksi. Pandemi Covid-19 menekan semua jajaran pimpinan untuk menentukan keputusan yang sulit. Berbagai faktor perlu dipertimbangkan untuk terus hidup di tengah kesusahan. Kadang keputusannya memuaskan, kadang tidak, memang begitulah risiko menjadi seorang pemimpin.

Sudah tiga bulan sejak saya pulang dari Kanada. Saat itu pandemi Covid-19 belum membuat negara ini panik. Waspada, lebih tepatnya. Di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta saat itu ada tim medis yang siap siaga menampung pasien yang sakit dengan APD lengkap. Begitu juga ada petugas khusus untuk mengecek suhu badan dari kamera termal dan termometer tembak. Tidak terlalu ketat seperti saat ini yang harus dilengkapi banyak prosedur. 

Apakah kondisi saat itu terhitung "benar" keputusan yang diambil pemerintah? Tentu tidak ada yang bisa menjamin. Kalau dari kacamata orang awam, kita sebagian ingin saja pemerintah ketat mengatur arus masuk Indonesia atau sebaliknya. Berbeda kacamata, berbeda pandangan, itu biasa. Namun, sebaiknya dalam kondisi seperti saat ini kita saling bahu membahu menghadapi bencana ini. Apa yang kita miliki sebaiknya dimaksimalkan untuk saling membantu.

Apa saja bisa kita lakukan untuk berkontribusi menghadapi pandemi ini. Bagi yang punya banyak duit bisa sumbangkan untuk masyarakat terdampak atau para petugas penanganan pandemi. Bagi yang bisa menyumbangkan tenaga bisa ikut andil dalam banyak kegiatan kemanusiaan. Bagi yang tidak bisa apa-apa bisa stay at home, setidaknya tidak menambah rumit kemungkinan pola penyebaran virus. Atau berdoa saja, semua orang bisa berkontribusi.

Kritik tanpa solusi kepada para pemimpin sebaiknya ditahan dulu. Kritik boleh namun sebaiknya dengan masukan yang konstruktif. Terlebih, lebih baik kalaupun bisa duduk bersama dengan pemangku kebijakan sebagai seorang ahli. Kalau tidak konstruktif, dipikir-pikir lagi deh. Bukannya nggak pro kepada orang yang suka mengkritik. Malah itu bagus. Komunitas yang produktif salah satu tandanya ada banyak kritik. Namun, alangkah indahnya jika kritik yang disampaikan bersifat membangun.

Pada dasarnya para pemimpin pasti sudah kebal akan kritik. Sebagian mengabaikan kritik, sebagian menerima kritik, relatif. Ada pemimpin yang selalu absolut pada keputusannya, ada yang membuka diri untuk selalu diberi masukan. Ada yang bersahabat dengan membalas komen netijen, ada juga yang gak pakai medsos. Namun, perlu dipertanyakan jika ada pemimpin yang dikritik sedikit langsung sewot. Bisa jadi sudah capek atau memang tidak memiliki kapasitas sebagai pemimpin.

Sayangnya, kalau ada pemimpin bilang capek pasti serba salah, kadang dikira sudah tidak mampu. Pemimpin kita juga manusia, pasti ada capeknya. Kita patut memanusiakan manusia. Pemimpin bukan hanya orang dalam posisi teratas. Contohnya, para tenaga kesehatan termasuk para pemimpin atas pasien yang ditangani. Mereka sepertinya tidak boleh capek, tapi mereka juga manusia. Bagaimana kalau kita nyinyir dalam kondisi seperti saat ini kepada mereka? Tak pantas rasanya.

Memimpin di era pandemi seperti ini banyak tantangannya. Taruhannya nyawa, reputasi terakhir. Taruhan nyawa bukan hanya nyawa pemimpin, nyawa banyak orang juga. Reputasi sudah tak penting. Intinya, prioritas keputusan untuk kebaikan bersama. Iya, prioritas yang terpenting saat ini. Sehingga, perlu kita banyak toleransi jika ada sebagian keputusan sulit yang harus diambil oleh para pemimpin. 

Kita hanya perlu memastikan bahwa segala keputusan diambil atas dasar yang kuat untuk kemaslahatan bersama. Data adalah kunci, ahli adalah kunci. Ego pemimpin perlu dikesampingkan dengan data dan ahli. Pemimpin yang bijak pasti banyak data dan ahli di sekitarnya. Apa iya keputusan diambil hanya dengan semau sendiri? Kalaupun keputusan berdasar pada "kira-kira" harus berdasar pada data.

Mari kita tinjau, sejarah memberi pelajaran bahwa keputusan besar banyak membutuhkan data. Masih di Hari Lahir Pancasila, jangan lupa bahwa ideologi Pancasila terbentuk tidak instan. Masukan, diskusi, dan berbagai pertimbangan diambil sehingga mendapat kesimpulan bahwa Pancasila merupakan ideologi yang terbaik untuk Indonesia. Penentuan ideologi sangatlah penting untuk keberlangsungan tatanan hidup berbangsa dan bernegara sehingga tidak boleh keliru. Begitu juga saat ini, keputusan di tengah pandemi tidak boleh keliru, setidaknya berdasarkan pertimbangan terbaik. 

__

Tulisan singkat ini saya buat untuk mengapresiasi para pemimpin, ahli, dan mereka yang berkontribusi untuk penanganan pandemi Covid-19. Selain itu, tulisan ini saya buat untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Saya mengajak kita semua agar terus bersinergi, saling membantu, dan saling mendukung dalam kebaikan.

Salam.

Comments

Tulisan yang banyak dibaca

Kembali Ke Kampus Perjuangan

Teruntuk Angkatan 2011 Teknik Sistem Perkapalan

Menghadapi Krisis Kepribadian