Renungan Kasus Novel Baswedan

Anggap saja semua orang sudah tahu kasus Novel Baswedan, intinya ada kasus dari orang namanya Novel Baswedan yang termasuk orang penting di KPK dengan segala urusannya dengan tindak pidana korupsi. Tentunya orang kalau bekerja di KPK pasti berurusan dengan para koruptor. Musuhnya bisa banyak jika ketat memeriksa kasus korupsi, termasuk Novel Baswedan ini. Nah, Novel Baswedan ini ceritanya disiram air keras oleh oknum di wajahnya setelah sholat subuh. Akibatnya, salah satu matanya tidak berfungsi lagi hingga saat ini.

Udah segitu aja reviewnya. 

Baru-baru ini heboh bahwa pelakunya hanya dituntut satu tahun penjara oleh jaksa. Alasannya, pelaku tidak sengaja mengenai wajah korban saat menyiram air keras, padahal niat awalnya hanya menyiram tubuhnya, disamping pelaku sudah minta maaf kepada korban. 

Komentar kita pasti umum, hampir semua orang bilang ini tidak adil dan tidak pantas, bahkan mencederai akal sehat. Katanya nggak mungkin tanpa niat jahat,  jangankan soal wajah yang terkena air keras, saat oknum tersebut ingin "memberi pelajaran" dengan menyiram air keras ke tubuh saja sudah niat jahat kan. Umum, itu komentar umum, udah wajar karena kita masih bisa mikir.

Masih, kita bisanya gini-gini aja, kita bukan hakim, kita bukan jaksa, bahkan korban pun hanya bisa pasrah. Namun, setidaknya dari kasus ini ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita renungkan.

Sikap Korban

Saya suka sikap korban, sudah menganggap ini takdir. Jarang orang yang legowo saat terkena musibah seperti korban, apalagi sampai satu mata tidak berfungsi. Di situasi ini, saya makin salut jika korban masih bersyukur karena satu sisi matanya masih berfungsi. Namun, salut saya masih diatas itu, mata hati masih lurus (semoga) karena tidak fokus pada penyiraman air keras tapi fokus pada penegakan hukum. Selain itu, dia masih aktif sebagai penyidik, artinya masih lurus, tidak berakhir begitu saja dengan risiko yang pernah dialami.

Rasanya, korban ini memang sudah sedikit sekali memikirkan urusan "dunia"nya.

Respon Netijen

Ternyata kita masih bisa mikir. Sudah jelas bahwa kasus telah diungkap secara sistematis, namun rasanya masih ada yang cidera. Gausah dipikir berat-berat, sudah kelihatan cideranya dan gak masuk akalnya kasus ini hingga akhir. Mana mungkin menyiram air keras tidak ada niat buruk. Bayangkan, alasan soal niat saja bisa berdampak pada selisih hukuman, sedangkan kasus ini dianggap tidak ada niat. Gila.

Respon akal sehat kita menunjukkan bahwa yang benar masih terlihat benar dan yang buruk masih terlihat buruk. Hal ini penting untuk kita sadari agar dapat menilai sesuatu sesuai dengan kondisinya sehingga mempengaruhi cara berpikir kita di masa mendatang.

Dunia Para Elit

Dari kasus ini, saya dapat membayangkan bagaimana skema yang terjadi di lapangan. Sang elit pasti terpojok oleh penyidikan KPK. Setelah itu langsung memberi pelajaran pada penyidik terkait. Dia tau pasti respon masyarakat tidak akan enak, disamping memanfaatkan itu untuk menggoyah para penyidik bahwa masyarakat tidak bisa apa-apa. Para elit tersebutlah yang bisa melakukan apa saja. Siapa yang tidak bisa menyiram air keras? Semua orang bisa. Hanya saja tidak semua orang bisa menanggung risikonya apalagi menanggulangi risikonya. Nah, hingga saat ini elit tersebut sudah lihai menangani risikonya.

Oknum tidak ditemukan dalam jangka waktu dua tahun. Padahal menurut saya tidak mungkin sampai selama itu untuk sekelas orang-orang top mencari orang. Di daerah-daerah saja cari maling gampang sekali sepertinya bahkan sudah tau bos yang dicurigai, dll. 

Mari kita flashback dua tahun ini, ada peristiwa apa aja. Mari kita sebut dua peristiwa besar yaitu pemilihan presiden dan ketua baru KPK. Rasanya, kasus ini disimpan setelah dua acara besar itu aman. Entah benar atau tidak, namun mari kita analisa. 

Jika peristiwa ini terangkat ketika pemilihan presiden pasti akan banyak pihak yang akan tertekan. Jika peristiwa ini sudah terangkat sebelum posisi atas KPK aman maka sangat sulit untuk mengendalikan KPK. Penyiraman air keras hanya akan menjadi kasus biasa tanpa hasil.

Pelajaran yang bisa diambil dari perspektif ini yaitu bahwa dunia para elit ini penuh dengan rencana, siasat, dan strategi. Orang seperti itu hanya sedikit, sebaiknya kita juga belajar agar tidak menjadi korban yang merugi. Kadang memang menjadi orang biasa hidupnya tenang, tapi ketika dirugikan oleh orang pintar seketika semua bisa hilang dan menyakitkan.

Menurut saya itu saja poin penting yang perlu direnungkan, semoga bermanfaat, jika ada perspektif lain bisa kita berdiskusi di kolom komentar atau bagi link tulisan blog di kolom komentar.

Salam.

Comments

Tulisan yang banyak dibaca

Kembali Ke Kampus Perjuangan

Teruntuk Angkatan 2011 Teknik Sistem Perkapalan

Menghadapi Krisis Kepribadian