Kanada (Part 1) - Hampir Ketinggalan Pesawat

Hari pertama di Kanada, salju turun untuk pertama kalinya. Kok pas sekali ya, saya heran, salju menyambut saya yang tidak pernah tau secara langsung rasanya turun salju. Saya kira hanya seperti bongkahan bunga es di kulkas, rasanya beda. 

Merantau lebih jauh, pengalamannya lebih jauh juga

Sudah hampir satu tahun setelah ke Kanada, saya belum pernah bercerita. Saat itu bulan November saya berangkat dari Jakarta. Tujuannya jelas yaitu untuk studi di University of Manitoba, sebuah kampus di provinsi Manitoba, di Winnipeg. Akhirnya, untuk pertama kalinya saya ke luar negeri. Ke luar kota sudah, ke luar provinsi sudah, ke luar pulau sudah, ini ke luar negeri pertama kali. Dari Terminal 3 bandara Soekarno Hatta saya diantar mas yang sudah berpengalaman ke luar negeri. 

Waktu itu dini hari, tujuan transit pertama saya ke Tokyo, Jepang. Jadi, bukan hanya Kanada, setidaknya saya pernah ke Jepang meskipun transit. Akhirnya, saya merasakan naik pesawat dengan kursi berjejer cukup banyak. Orang-orang asing dan para awak pesawat yang juga asing. Tidak sia-sia belajar bahasa inggris, terpakai juga. Perjalanan cukup lama, hingga sampai di Jepang siang hari. 

Selama perjalanan ke Jepang cukup menyenangkan, saya bisa berinteraksi dengan orang asing dan tau bagaimana karakternya. Mereka ke luar negeri tapi seperti tidak kemana-mana, biasa saja. Ternyata sama saja seperti kita terbang antar kota. 

Selama perjalanan pula, banyak makanan yang disuguhkan di pesawat, senangnya. Biasanya mentok dapat roti kalau di Indonesia. Maklum, kelas pesawat saya masih kelas ekonomi. Ke luar negeri pun masih kelas ekonomi, tapi suguhannya banyak sekali, saya suka. Namanya juga baru ke luar negeri, wajar senang dengan hal baru. 

Di Jepang tidak lama, saya transit di Narita. Menurut saya tidak ada perbedaan signifikan bandaranya dengan bandara Indonesia, namun saya takjub pada toiletnya. Fiturnya lengkap sekali, canggih pula. Rasanya tidak perlu khawatir akan najis jika toiletnya super seperti itu. Selain canggih, sangat bersih sekali. 

Setelah transit saya lanjut ke Vancouver, Kanada. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan, perjalanan biasa saja. Hampir selama di perjalanan saya tidur. Dari Narita berangkat sore hari, jelas saya tidur karena capek sekali rasanya.Tapi saya kaget kok cepat sekali rasanya tidur, tiba-tiba sudah dibagikan makan pagi. 

Saya mulai kebingungan, tidak pernah sejauh ini naik pesawat, waktunya berganti sangat cepat. Zona waktu yang berbeda sangat membuat badan kelelahan. Tidur tidak lama, tapi di luar pesawat sudah siang dan rasanya tidak ada malam kecuali saat baru berangkat dari Jepang. 

Pemandangan Menuju Vancouver
Pemandangan menuju Vancouver

Menuju Vancouver, saya disuguhkan jejeran pegunungan dengan hamparan salju di puncaknya. Luar biasa sangat indah, ingin sekali terjun lalu berkemah disana. Tidak lupa saya abadikan pemandangan tersebut.

Ketiduran di Vancouver

Akhirnya pesawat sampai di Vancouver, lelah sekali. Rasanya saya kurang tidur, malam terlewati sangat singkat. Di Vancouver, saya menunggu pesawat lagi ke tujuan selanjutnya yaitu Winnipeg, masih lama dan saya sempatkan berkeliling. Takjub, di sekitar bandara ada pemandangan pegunungan salju yang keren. Segar rasanya di pikiran melihat pemandangan tersebut di balik kaca bandara. 

Ngantuk tak tertahankan, saya putuskan untuk ke depan pintu dengan tujuan Winnipeg sesuai jadwal meskipun belum dibuka. Saya sempatkan tidur disana karena waktunya masih lama. Karena khawatir, saya berkali-kali bangun untuk memastikan tidak tertinggal pesawat. Ada kemungkinan saya tertidur pulas.

Hingga akhirnya, benar saja saya tertidur pulas. Jam sudah menunjukkan jadwal pesawat berangkat. Saya cek di pintu ternyata sudah antri banyak, namun saya segera sadar dan bertanya, pintu di depan saya bukan tujuan Winnipeg. Kacau, tujuan dari pesawat di pintu tersebut ganti dan dipindahkan ke pintu lainnya. Waktu sangat singkat, saya lari ke pintu tujuan. Tampak di pintu tujuan tidak ada orang mengantri, waktu mepet, final call. Beruntung saya tidak ketinggalan pesawat. Jangan ditiru ya. 

Akhirnya saya masuk ke pesawat, saya sempatkan istirahat. Ke Winnipeg hanya dua jam saja namun istirahat sementara sudah cukup melegakan. Saat akan landing, tampak Winnipeg tidak bersalju. Saya bertanya kepada seseorang di samping saya, ternyata memang masih awal musim dingin dan belum turun salju sama sekali. 

Keluar dari bandara Winnipeg saya sempatkan berkabar kepada keluarga di rumah. Selanjutnya saya panggil taksi yang disupiri orang Pakistan menuju kos-kosan yang sudah saya pesan sebelumnya. Akhirnya, sampai juga, lega. Keesokan harinya saya ke kampus, pagi hari itu juga salju turun. Akhirnya merasakan turunnya salju. 

Ke Kanada, saya tinggalkan istri dan anak saya yang baru lahir di Surabaya. Razzan masih berumur dua bulan saat itu. Berat rasanya, tapi mau tidak mau harus dijalani. 

Comments

Tulisan yang banyak dibaca

Kembali Ke Kampus Perjuangan

Teruntuk Angkatan 2011 Teknik Sistem Perkapalan

Menghadapi Krisis Kepribadian