Perjalanan Ketertarikan Membaca

Ada cerita panjang mengenai perjalanan ketertarikan saya untuk membaca. Saya mulai tertarik untuk membaca di bangku sekolah dasar hingga saat ini. Buku, berita, hingga jurnal, bagi saya banyak hal menarik yang bisa didapatkan dari membaca.

Alam bawah sadar saya membawa saya untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kebutuhan. Salah satu contohnya adalah membaca. Bagi saya membaca adalah kebutuhan, selama saya tidak butuh membaca maka saya tidak membaca. Saat kecil dulu, siapa yang pernah berpikir sangat membutuhkan bahan bacaan. Saya rasa tidak satu pun dari kita membutuhkan membaca saat itu. Hanya saja, ada berbagai anjuran yang diterima, harus rajin membaca lah, membaca adalah jendela dunia lah, ada saja. Atau bahkan dorongan dari guru atau orang tua saja. 

Saya saja tidak merasa butuh membaca saat itu, bisa membaca saja saya sudah puas. Itu mengapa saya sangat sulit saat itu membaca cepat. Apa gunanya? Tanya dalam diri saya saat itu yang berujung kesimpulan bahwa itu tidak penting. Hal yang sama terjadi dengan kemampuan berhitung matematika. Bagi saya, asal pandai menghitung saja sudah cukup, tidak perlu cepat-cepat. Tidak penting. Efeknya, hingga saat itu saya lambat jika dihadapkan soal matematika. Tapi saya yakin bisa menyelesaikan soal tersebut meskipun lambat.

Dulu, buku bacaan bagi saya sangat asing karena saya tidak mempunyai buku bacaan sendiri. Buku hanya tersedia di sekolah, itu pun hanya buku paket. Isinya itu-itu saja, soal ataupun bacaan soal. Paling banyak bacaannya hanya di buku Bahasa Indonesia. Itu pun bagi saya tidak menarik, hanya digunakan untuk belajar membaca. Akhirnya, ketertarikan saya terbangun saat membaca buku paket kelas empat, buku paket IPA. 

Saya sangat tertarik dengan bacaan yang berisi ilmu dengan logika dan kenyataan. Di buku IPA, saya mendapat insight baru yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya, Di buku tersebut saya mendapatkan pengetahuan tentang kehidupan sehari-hari dan fenomena yang dijelaskan terjadi di kehidupan saya. Misalnya saja tentang kapilaritas yaitu kemampuan air menyerap di pori-pori kecil. Cukup sederhana, namun saya menyukainya, bagi saya itu ilmu yang sangat menarik.

Selain itu, di buku IPA saya menemukan berbagai biografi penemu alat-alat sains canggih. Biografi itu bagian yang membuat saya berpikir keras, menemukan ilmu baru bagaimana bisa? Hebat ya!. Sungguh saya tertarik dengan IPA. Sebaliknya, saya sungguh bosan dengan buku-buku IPS, apalagi sejarah. Apalah itu, hanya cerita saja, saya berpikir saat itu. Akibatnya saya kacau dengan hal menghafal dan persoalan IPS, nilai saya selalu rendah.

Ketertarikan saya pada bidang IPA berlanjut hingga SMP. Seperti biasa, saya tidak pernah mempunyai buku selain dari sekolah. Jangan tanya mengapa, untuk uang saku saja saya kesusahan apalagi untuk membeli buku, mimpi. Namun, di SMP ada perpustakaan sekolah, tidak terlalu besar, tapi setiap lewat saya sangat penasaran. Saya tidak berani masuk ke perpustakaan saat awal masuk SMP. Saya malu karena tidak tau bagaimana bersikap di dalam sana. 

Hingga saatnya, ada pelajaran Bahasa Indonesia yang harus ke perpustakaan. Nah, itulah saat saya berani ke perpustakaan pertama kali, akhirnya. Setelah itu saya sempatkan ke perpustakaan. Sayang, rasanya di perpustakaan SMP tidak ada bacaan yang menarik, kalaupun ada sedikit sekali. 

Bangku SMA telah dimulai dan beruntung diterima di SMA favorit. Perpustakaannya cukup besar, ketertarikan saya membaca buku bangkit kembali. Ternyata cukup banyak yang suka ke perpustakaan. Sayangnya lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki yang masuk perpustakaan. Memang, di sekolah ini rasio perempuan dibandingkan laki-laki cukup besar, dua kali lipat. Berbeda dengan sekolah lainnya.

Akhirnya saya mempunyai kartu perpustakaan. Mulailah saya mencari buku yang menarik untuk dibaca. Senangnya, ada banyak buku sains disana. Hingga akhirnya saya tidak sadar sudah dua kali kartu perpustakaan saya penuh. Hampir semua buku sains di setiap bilik saya baca, meskipun sebagian hanya saya baca cepat di sela jam istirahat. Entah mengapa saya tidak tertarik dengan buku novel, bilik buku yang saya hindari. Saat itu saya berpikir, ah itu buku cewek. Memang mayoritas pengunjung perpustakaan selalu membaca novel dibandingkan buku lainnya, ya mereka rata-rata perempuan.

Di samping itu, bacaan berita sangat menarik untuk diikuti saat SMA. Koneksi internet tersambung untuk pertama kalinya di rumah. Sering sekali saya membuka portal berita. Kontennya memang menarik, selain isu terkini, bagi saya bisa juga mendapatkan berbagai ilmu umum baru. Ini memancing bahan diskusi dengan kawan-kawan ngopi saat itu. Masih SMA sudah banyak berdiskusi isu politik saat itu. Lebih banyak drama pemerintahan SBY saat itu.

Bacaan di Kampus

Dunia kampus sungguh menjadi refleksi kuat seberapa banyak referensi yang telah saya miliki, referensi itu dari bacaan. Rasanya sedikit sekali bahan bacaan saya. Ternyata ilmu sains tidak begitu populer di kalangan mahasiswa kampus. Lebih banyak mereka disibukkan urusan politik, baik di dalam ataupun di luar kampus. Setidaknya, saya mengetahuinya dari mereka para aktivis. Selebihnya juga banyak mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang, tak banyak bicara. Mereka yang bicara lebih banyak aktivis kampus.

Kosa kata para aktivis banyak yang asing di telinga. Saya terheran, kok bisa mereka berbicara sebegitu lantang dengan gaya bahasa dan kosa kata asing. Terlihat hebat bagi sebagian besar orang. Sayangnya bagi saya biasa saja, saya masih tertarik pada ilmu sains. Aktivis? Ah skip.

Perpustakaan kampus ITS cukup besar, ternyata bukunya banyak sekali, saya suka. Sayang begitu sayang kemampuan bahasa inggris saya jelek. Mayoritas bukunya berbahasa inggris. Sejak SD hingga kuliah saya sangat sulit sekali bisa berbahasa inggris. Selain itu, saya menganggap bahasa inggris masih belum begitu dibutuhkan. Pastilah saya abaikan.

Lama di kampus, aktivitas saya rupanya terjebak di dunia sains dan teknologi. Berbagai proposal didanai kementerian untuk membuat serangkaian inovasi teknologi tepat guna. Begitu juga berbagai organisasi yang memiliki sub divisi ristek saya masuki. Namun, sangat menyenangkan bisa mengaplikasikan apa yang saya dambakan selama ini, membuat teknologi, dapat dana pula. Di kampus, saya berbeasiswa bidik misi, hidup saya ya mayoritas bergantung pada beasiswa itu, pas-pas an. Ketika mendapat dana hibah untuk teknologi tepat guna, ah senangnya. Fokus saya lebih banyak pada hobi menguntungkan tersebut. Bahan bacaan saya terbatas pada berita dan sosial media.   

Setelah beberapa tahun di kampus, rupanya saya mulai gusar pada para aktivis. Begitu banyak kawan saya membahasnya. Mereka ini ngomong apa?!. Kata-kata mereka seperti di atas langit, susah dimengerti. Meski demikian, diantara mereka juga saling tanggap dengan kosa kata rumit. Akhirnya saya mengetahui, ternyata itu dari bacaan mereka. Bukunya hampir semua sama, temanya tidak jauh dari pergerakan. Seperti biasa, saya tidak tertarik. Meskipun saya menjabat di BEM ITS, saya tidak begitu tertarik dengan bacaan para aktivis kampus. Saya hanya berusaha memahami komunikasi mereka dan cara mereka berkomunikasi sebagai aktivis.

Akhirnya lulus dari kampus, saya sempat lontang lantung menganggur akibat naiknya harga minyak dunia. Hingga saya bekerja di salah satu perusahaan galangan kapal swasta di Jakarta. Nikmat terasa, akhirnya saya bisa punya penghasilan sendiri. Sebagian penghasilan selalu saya sisihkan untuk membeli buku. Saya sadar, meskipun menjadi karyawan dengan penghasilan tetap, isi otak saya harus berkembang. Berbagai genre buku saya jajali, kecuali novel.

Tidak sampai setahun, saya diterima beasiswa hingga S3 yang saat ini masih berjalan. Referensi bacaan saya lebih banyak jurnal penelitian. Kondisi ini memaksa saya untuk memahami perkembangan ilmu pengetahuan, setidaknya untuk bidang penelitian saya yaitu mesin kapal. Jurnal penelitian adalah bacaan tersusah bagi saya. Namun, saat ini mulai terbiasa hingga mengetahui mana yang berkualitas dan mana yang tidak.

Pemikiran

Dampak membaca sangatlah terasa, setidaknya terhadap cara berpikir. Saya berkesimpulan saat ini bahwa selain isi bacaan itu sendiri, manfaat membaca sangat terasa terhadap pola pikir. Sehingga, saya sempat sangat menyesal menghilangkan waktu dengan tidak banyak membaca. Pola pikir yang saya rasakan berdampak cukup signifikan terhadap cara saya bersikap. Tidak heran banyak orang hebat lahir dibarengi referensi bacaan yang sangat banyak.

Dari perjalanan ketertarikan membaca, saat ini saya berkeyakinan bahwa membaca sangat penting. Dari membaca, saya mendapat berbagai ilmu dan pengalaman menarik. Meskipun bukan pengalaman nyata, setidaknya terasa dalam pikiran. Sehingga, suatu saat ditemukan dengan orang yang memiliki pengalaman nyata tersebut, seolah sejajar. Oleh sebab itu, meskipun kita terhitung sebagai pribadi ataupun bangsa yang tertinggal oleh zaman, jangan sampai kita kurang membaca.

Comments

Tulisan yang banyak dibaca

Kembali Ke Kampus Perjuangan

Teruntuk Angkatan 2011 Teknik Sistem Perkapalan

Menghadapi Krisis Kepribadian