Publikasi dan Tulisan Terindeks (?) - Riset

Semenjak kenal dengan penelitian, "terindeks" adalah bagian kata yang penting, apalagi "terindeks scopus".

Bagi para akademisi, publikasi ilmiah terindeks scopus atau yang lainnya sangat penting. Alasannya tergantung dari persepektif individu masing-masing. Tujuan dasarnya yaitu agar hasil penelitiannya mudah ditemukan oleh komunitas periset.

Saya kenal kata "terindeks" sejak SMA kelas 1 saat mulai aktif blogging. Sama dengan publikasi hasil penelitian, publikasi tulisan blog juga butuh terindeks jika memiliki target pembaca yang banyak. Di blog, kita bisa mengirim metadata tulisan blog ke berbagai search engine agar terindeks.

Saya masih aktif blogging di frengkimf.com, namun tulisan yang terindeks saya batasi karena saya tidak mentargetkan banyak pembaca. Terlebih, terindeks artinya menyebar jejak digital di dunia maya. 

Semakin banyak konten yang terindeks maka semakin banyak gambar, tulisan, dan setiap data blog saya yang tersebar di dunia maya. Sekarang, saya blogging hanya untuk mengkoleksi jurnal kehidupan pribadi yang kadang ingin saya tulis.

Hibah penelitian yang memaksa publikasi penelitiannya terindeks scopus ataupun yang lainnya, menurut saya sangat cerdik. 

Sedikit flashback, jika dihitung dari SMA kelas 1 yaitu tahun 2008 hingga tahun 2021 saat ini, setidaknya butuh 13 tahun bagi saya memutuskan konten blog tidak terindeks sama sekali di dunia maya. Selain karena tidak ingin konten pribadi tersebar acak, saya juga menyadari bahwa tulisan terdahulu saya sangat jelek dan tidak banyak berdampak.

Begitu juga dengan publikasi penelitian, saya yakin para akademisi juga mendapatkan pengalaman yang sama. Semakin lama di dunia penelitian akan semakin hati-hati dalam mempublikasikan hasil penelitiannya dari segi kualitas ataupun kuantitas.

Publikasi penelitian yang terindeks di Indonesia cukup populer saat ini. Kedepan saya yakin kualitas publikasi penelitian akan dinilai dari dampaknya terhadap berbagai aspek kehidupan. Paling tidak berdasar dari nilai impact factor jurnal yang dipilih seperti di negara lain.

Suatu saat, para peneliti juga akan jenuh karena terus menulis dan hanya pada tahap itu-itu saja. Pada saat itulah, jika saat itu disadari bersama, ilmu pengetahuan akan berkembang pesat di negara ini. Itu pun kalau para peneliti masih diberi umur panjang.

Para peneliti akan terobsesi untuk membuat proyek pribadi untuk memuaskan diri sendiri atas karya pribadinya. Bangga atas karya sendiri tidak akan hanya sebuah retorika belaka seperti yang digaungkan saat ini oleh negara. Kepercayaan diri para peneliti akan meningkat dan menunjukkan karyanya kepada dunia.

Publikasi hasil penelitian akhirnya menjadi sangat berarti karena dihasilkan dengan karya yang "dewasa". Ya, karya yang dapat digunakan secara langsung di masyarakat. Karya yang para akademisi sebut dengan tingkat kesiapterapan teknologi atau TKT tinggi itu.

Sedang menulis artikel publikasi ilmiah

Disamping.

Sebenarnya, tulisan blog saya semenjak SMA itu merupakan sebuah jurnal penelitian kalau diterjemahkan dalam dunia akademik. Pernah nonton film saintifik? Mereferensi pada film-film saintifik, para peneliti jaman dahulu itu kalau mendokumentasikan hasil eksperimen atau penemuannya itu dalam tulisan-tulisan sederhana di bukunya. Bentuk dokumentasi senderhana tersebut juga termasuk sebuah jurnal. Bisa dikatakan mirip dengan tulisan acak blog saya dulu.

Saya ingat betul beberapa tulisan blog saya seperti "cara membuat kapal uap sederhana", "cara membuat kapal elektrik sederhana", "cara membuat tulisan berjalan di blog". Beberapa contoh judul tulisan blog tersebut juga merupakan sebuah jurnal pribadi. Meskipun bukan hal baru, saya menulisnya juga dengan pengalaman dan eksperimen.

Ketika masuk ke dalam dunia kampus, saya sangat senang saat mengenal adanya program kreativitas mahasiswa atau PKM dari pemerintah. Belum mulai saya menerima materi mata kuliah satu pun, proposal PKM saya jadi dan lolos pendanaan. Ketika ada peluang dapat membuat karya dan didanai, seketika itu saya senang. 

Sebelum ada PKM di kehidupan saya, semua karya dan eksperimen sederhana yang saya buat semuanya menggunakan barang bekas dan dana seadanya. Ketika PKM datang dan peluang dana puluhan juta di depan mata hadir, saya ambil tanpa sungkan. Tentunya dengan bimbingan dosen dan senior sehingga PKM saya terdanai 12 juta rupiah tahun 2012 saat itu, sebuah angka fantastis bagi saya yang hampir seumur hidup mengandalkan beasiswa untuk sekolah. Setiap tahun hingga lulus kuliah selalu ada proposal PKM saya yang didanai dan bahkan lolos pimnas dan berkontribusi untuk juara nasional saat itu.

Hingga saat ini, meskipun telah melewati jenjang akademik doktoral, saya masih terobsesi membuat karya-karya sederhana dengan dana pribadi. Seperti membuat sepeda listrik, kapal listrik, hovercraft bertenaga diesel, dan kapal pribadi. Kalau dalam "kualitas mahasiswa", karya sederhana itu sudah hatam saya lakukan. Namun, untuk "kualitas standar" perlu saya asah terus menerus.

Tentunya, dalam ranah akademik, ada beberapa obsesi yang akan saya mulai yaitu seperti membuat kapal riset pribadi dan rangkaian engine hidrogen. Ada banyak obsesi karya lainnya yang ingin saya realisasikan. Saya ingin banyak berkonsultasi, berkolaborasi, dan bersenang-senang bersama dalam hal ini.

Comments

Tulisan yang banyak dibaca

Kembali Ke Kampus Perjuangan - Perjalanan

Pengalaman Mendapat Beasiswa PKPI/Sandwich-Like di Kanada - Riset

Hampir Ketinggalan Pesawat ke Kanada - Perjalanan