Posts

Apa yang paling penting dari akademisi?

Saya mendengarkan sedikit cuplikan kajian Gus Baha di youtube, bahwa yang paling penting itu pada hakikat. Beliau menjelaskan bahwa ada kyai di NU dan kyai NU. Sepemahaman saya dari video tersebut bahwa kyai yang di NU yaitu kyai yang berbasis NU, sedangkan kyai NU adalah kyai yang jadi kyai karena jabatan di NU. Saya berpikir, bagaimana dengan akademisi kampus dan fungsi jabatan akademik? Saya pikir ini relevan.

Dari video tersebut menekankan bahwa yang lebih penting yaitu hakikat. Seperti wisuda, yang terpenting bukanlah wisudanya tetapi apakah dengan wisuda itu sebagai orang alim (berilmu) atau tidak. Beliau menjelaskan bahwa kegiatan ceremonial seperti wisuda tidak bisa mengganti hakikat. Memang benar, hakikatnya orang belajar haruslah berilmu. 
Lalu bagaimana dengan jabatan fungsional akademisi? Saya harus merenungkan hal ini karena sangat mungkin saya akan mengalaminya. Selain itu, saya perlu memahamkan ini kepada istri saya yang berprofesi dosen. Menurut saya, jabatan fungsiona…

Menghadapi Krisis Kepribadian

Pohon tumbang pun masih bisa tumbuh, begitu juga dengan kepribadian. Seiring dengan kemajuan dunia maya, seolah manusia terlahir kembali sebagai manusia yang mengalami krisis akan kepribadian dengan kebutuhan utama yaitu isi perut. Saya sebut demikian karena kita sudah lupa untuk saling menghargai, lupa untuk saling menghormati, dan lupa untuk hidup tentram di masa hebatnya teknologi saat ini. Sehingga akal pikiran terlupakan seperti orang kelaparan yang hanya ingin makan. Kalau manusia sudah lapar, segala cara dilakukan untuk makan. Akal pikiran pun kadang terbengkalai. Krisis ini kadang juga saya alami, sehingga saya ingin berbagi hasil analisa saya.

Berhenti belajar

Di dunia maya masih ada saja yang terprovokasi, bertengkar, berkata kasar, seenaknya berbicara, dan berkomentar negatif. Saya pun pernah pada situasi itu. Kita lupa bahwa di dunia maya disaksikan oleh banyak orang. Sekali berbicara, itu seperti berpidato di tengah orang banyak. Kasus seperti ini merupakan kasus yang memb…

Menikah di Umur 25 Tahun, Menenangkan Sekaligus Menegangkan

Sebenarnya sudah satu tahun yang lalu saya menikah, oleh sebab itu saya baru bisa bercerita karena sudah satu tahun menikah. Di kota, umur 25 tahun dianggap masih anak baru gede untuk menikah, sedangkan di desa umur 25 tahun sudah terasa cukup tua. Buktinya, di kota sedikit sekali orang yang mau menikah di umur tersebut dan di desa terjadi sebaliknya. Penyebab utamanya yaitu terkait finansial yang belum memenuhi kehidupan sehari-hari. Menurut saya wajar, gaya hidup di kota sangat berbeda dengan di desa sehingga pertimbangan tersebut cukup rasional. Namun, ada beberapa pengalaman yang perlu saya bagi agar dapat mempertimbangkannya lagi.

Menyelesaikan urusan pribadi

Salah satu misi saya yaitu menikah secepatnya agar urusan tersebut segera selesai dan bisa melanjutkan hidup. Masa muda saya dikelilingi teman yang sibuk bergalau ria tentang seorang pasangan hidup, saya heran, mengapa tidak diselesaikan saja cepat-cepat. Sebagian teman hanya galau setiap hari bingung jodoh, sebagian lagi pac…

Pemilu Semakin Dekat, Perlu Banyak Diam

Pesta demokrasi segera dilakukan tidak lama lagi. Para pendukung selalu aktif memberikan kontribusi untuk meyakinkan masyarakat atas salah satu kandidat. Umumnya, semakin dekat pemilu semakin banyak yang bicara, baik itu di dunia maya ataupun nyata. Hal itu juga terjadi kepada saya, dulu, namun saat ini saya sadar bahwa ada beberapa alasan mengapa harus banyak diam.

Pertama, jika bukan tim sukses, omonganmu cuma akan memperkeruh suasana. Seorang tim sukses sah saja menyebarkan, mengabarkan, dan mengagungkan jagoannya. Tujuan mereka jelas untuk memenangkan jagoannya. Ada tim sukses yang dibayar ada tim sukses yang dijanjikan atau sukarela. Sedangkan orang biasa yang tidak punya tujuan bisanya cuma komentar saja, kebanyakan hanya memperkeruh suasana.

Kedua, masa akhir kampanye masa di mana semua senjata melumpuhkan lawan dikeluarkan. Segera ambil keputusan, kita ini memilih siapa. Jika belum menentukan pilihan sadarilah kalau kita ini masih berstatus "swing voters". Status itu y…

Dilema Kapal Selam Nasional

Image
Hari ini saya menghadiri Sarahsehan HUT ke 59 Hiu Kencana di Armada Timur TNI AL, forum diisi dengan diskusi mengenai generasi baru kapal selam Indonesia. Menarik, hal ini berkaitan dengan kemampuan Indonesia untuk menjaga kedaulatan laut, kapal selam menjadi primadona karena hingga saat ini alat tersebut masih dianggap sebagai peralatan penunjang yang eksklusif. Kemampuannya yang mampu bersembunyi di dasar laut menyebabkan alat ini cukup strategis untuk terus digunakan, sayangnya jumlah kapal selam kita terbilang sedikit jika dibandingkan dengan milik negara tetangga. Dilemanya lagi, upaya untuk memperbanyak alat strategis ini tersendat oleh berbagai penghambat.

---

Tulisan ini saya buat untuk menunjukkan pada para pembaca bahwa kemampuan kapal selam Indonesia perlu untuk diupgrade, tugas kita sebagai warga negara adalah mendukung dan mendesak kebutuhan ini. Siang tadi ada bahasan bahwa persoalan kapal selam ini juga perlu diketahui khalayak ramai, masyarakat perlu tau bahwa kapal s…

Autonomous Ship, Kapan Indonesia Menggunakan?

Image
Hingga saat ini belum ada autonomous ship atau unmanned ship komersial yang berhasil dibuat di seluruh penjuru dunia. Beritanya tahun ini memang beberapa institusi dunia berlomba menjadi pembuat yang pertama, kalaupun ada itu pun masih perlu pendalaman lebih lanjut karena masih banyak celah riset yang diperlukan. Berbagai topik riset untuk seminar dan simposium dunia telah diberikan sesuai dengan kebutuhan, lebih banyak pada sistem otomasi pada kapal dan regulasi agar kapal jenis ini dapat berlayar dengan lancar untuk pertama kalinya. Sehingga, Indonesia tidak perlu khawatir karena ketinggalan atau apapun, kita juga sedang memposisikan diri.

Saat ini telah kita mulai dari hal yang paling kecil skala kampus seperti berkecimpung langsung dalam riset dan meningkatkan awareness pada mahasiswa dengan adanya lomba autonomous boat. Sebut saja kampus saya, ITS tahun lalu sudah dapat menjadi juara dunia untuk perlombaan skala kampus yang bergandengan dengan berbagai kampus bergengsi, alhamduli…

Tips Bijak Menanggapi Isu Nasional Kaum Milenial

Kebebasan berbicara dalam negara demokrasi memang dijunjung tinggi, namun saat isu nasional tengah dikeluarkan oleh berbagai pihak ada baiknya jika ditanggapi dengan bijak. Kaum milenial bebas berkomentar tentang apa saja pada akun sosial media yang mereka miliki. Bahkan bisa saya pastikan bahwa mayoritas setiap orang muda saat ini bisa memiliki akun sosial media lebih dari satu. Ruang bebas mereka miliki, namun belum banyak yang sadar akan hal ini.
Mengambil Peran
Segala isu yang hadir hendaknya disikapi dengan mengambil peran bagi kita yang mengetahuinya. Setidaknya kurangi mencerca, mencaci, dan berkomentar miring agar setiap yang kita keluarkan memberi manfaat. Berpikir terlebih dahulu sebelum berkomentar, apakah komentar kita positif atau tidak. Sedangkan komentar positif tidak selalu bersifat "mendukung", komentar tersebut bisa saja menolak. Jika menolak isu yang ada kita bisa memberikan kritik dan saran, keduanya diusahan ada, karena kritik yang berdiri sendiri tanpa a…