Posts

Kebangkitan Inovasi dan Teknologi di Tengah Pandemi Covid-19

Kasus virus Covid-19 memberi peluang akademisi untuk unjuk gigi. Eksistensi institusi akademik mencuat seketika. Berbagai inovasi dan teknologi telah diciptakan untuk menanggulangi kasus ini. Tentu ini kabar baik, kita perlu bertahan di tengah wabah. Dari berbagai kasus dan sejarah munculnya berbagai inovasi dan teknologi. Situasi "terpojok" mendorong para stakeholder mengarahkan akademisi membuat peralatan dan temuan baru untuk memperingan masalah. Seperti munculnya revolusi industri setelah perang dunia I yang menjadi momentum awal perkembangan teknologi. Pun, momentum pandemi virus Covid-19 global saat ini diharapkan mampu mendorong adanya inisiasi sistem inovasi dan teknologi Indonesia yang lebih baik. Inilah masa emas bagi institusi akademik menunjukkan kontribusinya. Harus diakui, tidak semua inovasi dan teknologi dari hasil penelitian mampu diterima oleh masyarakat. Pada kasus pandemi Covid-19 ini lengkap, isu sudah terbentuk, keinginan pemerintah ada, pengusaha re

Kemampuan yang perlu digunakan di kala ekonomi dunia kacau

Akhir-akhir ini bila kita cermati, dunia sangatlah kacau karena kondisi perekonomian. Namanya dunia, isinya dunia, tidak jauh dari materi. Namun, siapakah yang dirugikan dan siapa yang diuntungkan? Tidak ada. Keuntungan ataupun kerugian hanyalah sebab dan akibat. Fenomena ini merupakan sebuah proses dalam hidup. Tidak perlu diambil pusing, semua akan berakhir dengan sendirinya. Bahkan kondisi seperti ini akan terus terjadi pada waktunya. Artinya, kejadian seperti ini tidak bisa dihindari. Oleh sebab itu, kita perlu bersiap diri untuk bertahan dalam kondisi apapun. Dunia berjalan dinamis dan memang seperti itulah harusnya. Jika hanya berjalan statis maka tidak lebih dari kumpulan hewan. Manusia bisa berpikir, mungkin untuk saat ini. Pada saatnya nanti, manusia tidak lebih hanya seperti hewan yang tidak punya akal. Sepertinya, kondisi saat ini lebih mengarah kesana. Segala hal dikaitkan dengan ekonomi, hitung-hitungan. Ada virus corona, pertama kali yang dihitung adalah dampak ekonomi

Rumah tumbuh dan energi tumbuh

Image
Istri saya seorang arsitek, saya selalu mendapat ilmu arsitektur dari percakapan sehari-hari, salah satunya konsep rumah tumbuh. Konsep tersebut sangat cocok untuk kami pasangan baru menikah, yang mana dapat membangun rumah sedikit demi sedikit. Namun, tiba-tiba saya ingat bahwa saya ingin rumah dengan energi listrik yang mandiri. Sudah sejak lama saya mengidamkannya dan masih berkutat dalam hal teknis untuk hobi saja. Saat ini mungkin sudah waktunya, saya perlu memikirkan konsep energi tumbuh di rumah yaitu membangun energi listrik mandiri di rumah secara bertahap. Memang biaya listrik PLN cukup rasional, namun jika hobi disalurkan untuk hal yang bermanfaat mengapa tidak. Foto saya ambil di sekitar kos saat jalan ke kampus di Winnipeg, Kanada Konsep energi bertumbuh ini akan saya aplikasikan di rumah, tentunya dengan persetujuan dari istri. Saat ini saya punya beberapa aki motor yang tidak terpakai. Beberapa kali motor mogok dan tidak tahu asal usulnya dan menyalahkan aki, akhi

Apa yang paling penting dari akademisi?

Saya mendengarkan sedikit cuplikan kajian Gus Baha di youtube, bahwa yang paling penting itu pada hakikat. Beliau menjelaskan bahwa ada kyai di NU dan kyai NU. Sepemahaman saya dari video tersebut bahwa kyai yang di NU yaitu kyai yang berbasis NU, sedangkan kyai NU adalah kyai yang jadi kyai karena jabatan di NU. Saya berpikir, bagaimana dengan akademisi kampus dan fungsi jabatan akademik? Saya pikir ini relevan. Dari video tersebut menekankan bahwa yang lebih penting yaitu hakikat. Seperti wisuda, yang terpenting bukanlah wisudanya tetapi apakah dengan wisuda itu sebagai orang alim (berilmu) atau tidak. Beliau menjelaskan bahwa kegiatan ceremonial seperti wisuda tidak bisa mengganti hakikat. Memang benar, hakikatnya orang belajar haruslah berilmu.  Lalu bagaimana dengan jabatan fungsional akademisi? Saya harus merenungkan hal ini karena sangat mungkin saya akan mengalaminya. Selain itu, saya perlu memahamkan ini kepada istri saya yang berprofesi dosen. Menurut saya, jabatan fu

Menghadapi Krisis Kepribadian

Pohon tumbang pun masih bisa tumbuh, begitu juga dengan kepribadian. Seiring dengan kemajuan dunia maya, seolah manusia terlahir kembali sebagai manusia yang mengalami krisis akan kepribadian dengan kebutuhan utama yaitu isi perut. Saya sebut demikian karena kita sudah lupa untuk saling menghargai, lupa untuk saling menghormati, dan lupa untuk hidup tentram di masa hebatnya teknologi saat ini. Sehingga akal pikiran terlupakan seperti orang kelaparan yang hanya ingin makan. Kalau manusia sudah lapar, segala cara dilakukan untuk makan. Akal pikiran pun kadang terbengkalai. Krisis ini kadang juga saya alami, sehingga saya ingin berbagi hasil analisa saya. Berhenti belajar Di dunia maya masih ada saja yang terprovokasi, bertengkar, berkata kasar, seenaknya berbicara, dan berkomentar negatif. Saya pun pernah pada situasi itu. Kita lupa bahwa di dunia maya disaksikan oleh banyak orang. Sekali berbicara, itu seperti berpidato di tengah orang banyak. Kasus seperti ini merupakan kasus yang

Menikah di Umur 25 Tahun, Menenangkan Sekaligus Menegangkan

Sebenarnya sudah satu tahun yang lalu saya menikah, oleh sebab itu saya baru bisa bercerita karena sudah satu tahun menikah. Di kota, umur 25 tahun dianggap masih anak baru gede untuk menikah, sedangkan di desa umur 25 tahun sudah terasa cukup tua. Buktinya, di kota sedikit sekali orang yang mau menikah di umur tersebut dan di desa terjadi sebaliknya. Penyebab utamanya yaitu terkait finansial yang belum memenuhi kehidupan sehari-hari. Menurut saya wajar, gaya hidup di kota sangat berbeda dengan di desa sehingga pertimbangan tersebut cukup rasional. Namun, ada beberapa pengalaman yang perlu saya bagi agar dapat mempertimbangkannya lagi. Menyelesaikan urusan pribadi Salah satu misi saya yaitu menikah secepatnya agar urusan tersebut segera selesai dan bisa melanjutkan hidup. Masa muda saya dikelilingi teman yang sibuk bergalau ria tentang seorang pasangan hidup, saya heran, mengapa tidak diselesaikan saja cepat-cepat. Sebagian teman hanya galau setiap hari bingung jodoh, sebagian lagi

Pemilu Semakin Dekat, Perlu Banyak Diam

Pesta demokrasi segera dilakukan tidak lama lagi. Para pendukung selalu aktif memberikan kontribusi untuk meyakinkan masyarakat atas salah satu kandidat. Umumnya, semakin dekat pemilu semakin banyak yang bicara, baik itu di dunia maya ataupun nyata. Hal itu juga terjadi kepada saya, dulu, namun saat ini saya sadar bahwa ada beberapa alasan mengapa harus banyak diam. Pertama , jika bukan tim sukses, omonganmu cuma akan memperkeruh suasana. Seorang tim sukses sah saja menyebarkan, mengabarkan, dan mengagungkan jagoannya. Tujuan mereka jelas untuk memenangkan jagoannya. Ada tim sukses yang dibayar ada tim sukses yang dijanjikan atau sukarela. Sedangkan orang biasa yang tidak punya tujuan bisanya cuma komentar saja, kebanyakan hanya memperkeruh suasana. Kedua , masa akhir kampanye masa di mana semua senjata melumpuhkan lawan dikeluarkan. Segera ambil keputusan, kita ini memilih siapa. Jika belum menentukan pilihan sadarilah kalau kita ini masih berstatus " swing voters". Stat